Pembukaan Selat Hormuz Belum Jamin Pelayaran dan Pasokan Energi Pulih
- 17 Jun 2026 13:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kesepakatan yang akan ditandatangani di Swiss membuka kembali Selat Hormuz, mencabut blokade laut terhadap Iran, dan mengizinkan Teheran kembali mengekspor minyak melalui pelonggaran sanksi terbatas.
- Para analis menilai normalisasi kondisi di Selat Hormuz tidak akan terjadi dalam waktu dekat karena Iran masih harus membersihkan ranjau laut, sementara biaya asuransi risiko perang tetap tinggi.
- Persoalan program nuklir Iran, pencabutan sanksi, dan ketegangan di kawasan belum terselesaikan, sehingga ancaman serangan baru dan gangguan pelayaran masih dapat menghambat pemulihan arus energi dunia.
RRI.CO.ID, Teheran — Rencana pembukaan kembali Selat Hormuz memunculkan harapan bagi pasar pelayaran dan energi global. Namun, para analis menilai pemulihan kondisi normal di jalur pelayaran strategis tersebut masih akan menghadapi berbagai tantangan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memuji kerangka kesepakatan dengan Iran yang bertujuan mengakhiri permusuhan di kawasan Teluk. Konflik tersebut telah menghambat pelayaran komersial di Selat Hormuz selama lebih dari tiga bulan.
Kesepakatan yang dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026 itu akan membuka kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya. Perjanjian tersebut juga mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dilansir dari Deutsche Welle.
Selain itu, Teheran akan kembali diizinkan mengekspor minyak melalui pelonggaran sanksi yang terbatas. Kerangka perjanjian itu juga memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
Meski demikian, badan manajemen risiko maritim MARISKS menilai kesepakatan tersebut baru menjadi awal dari proses deeskalasi. Menurut lembaga itu, kondisi perdagangan belum tentu akan segera kembali normal.
Iran masih harus membersihkan ranjau laut yang dipasang selama konflik, sementara pengamat independen perlu memastikan bahwa jalur pelayaran benar-benar aman. Proses pembersihan dan verifikasi tersebut diperkirakan memakan waktu antara 40 hingga 50 hari.
Selain itu, biaya asuransi risiko perang masih menjadi hambatan besar bagi perusahaan pelayaran. Saat ini, premi asuransi berkisar antara 1 hingga 4 persen dari nilai kapal, jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.
Para pemilik kapal diperkirakan akan mempertimbangkan tingkat risiko sebelum kembali mengoperasikan armadanya di kawasan Teluk. Setelah jalur aman dibuka, ratusan kapal yang terjebak selama berbulan-bulan di kawasan tersebut dapat mulai bergerak kembali.
Lembaga riset ekonomi Capital Economics memperkirakan sekitar 80 persen arus energi melalui Selat Hormuz baru akan pulih pada akhir September. Pemulihan pasokan gas alam diperkirakan berlangsung lebih lambat akibat kerusakan pada fasilitas gas alam cair Ras Laffan di Qatar.
Para analis juga mengingatkan bahwa sejumlah isu penting. Isu-isu tersebut termasuk program nuklir Iran, pencabutan sanksi, serta ketegangan geopolitik di kawasan, masih belum terselesaikan.
Karena itu, risiko serangan baru dan gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz dinilai masih tetap ada. Kondisi tersebut berpotensi menghambat proses pemulihan di salah satu jalur energi terpenting di dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....