JD Vance: Selat Hormuz Diperkirakan Dibuka Bebas Biaya dalam Jangka Panjang
- 16 Jun 2026 14:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Presiden AS JD Vance menyebut Selat Hormuz berpotensi dibuka tanpa biaya dalam jangka panjang, namun masih dibahas dalam negosiasi teknis.
- Pelaku industri belum mendapat kepastian aturan transit, sementara Iran menyebut pembukaan bebas biaya hanya sementara selama 60 hari.
- Bimco dan perusahaan pelayaran menilai kondisi Selat Hormuz tetap tidak stabil karena ancaman ranjau dan ketidakjelasan keamanan jalur pelayaran.
RRI.CO.ID, Washington — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memperkirakan Selat Hormuz akan dibuka bebas biaya (toll-free) dalam jangka panjang. Hal tersebut sebagai bagian dari kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, dilansir dari CNBC, Selasa, 16 Juni 2026.
Namun, ia menegaskan bahwa sejumlah detail teknis masih perlu dibahas dalam negosiasi lanjutan antara kedua pihak. Vance menyebut bahwa kesepakatan tersebut masih akan dirumuskan lebih lanjut dalam perundingan teknis.
Ia menambahkan, pelaku industri pelayaran saat ini belum mendapatkan kejelasan terkait mekanisme dan aturan transit di Selat Hormuz. Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka untuk transit bebas biaya selama 60 hari.
Setelah periode tersebut, pengelolaan selat akan dilakukan oleh Iran dan Oman, menurut laporan kantor berita Tasnim. Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran sendiri diperkirakan akan ditandatangani pada Jumat, 19 Juni 2026 di Swiss.
Presiden Donald Trump mengatakan bahwa perjanjian tersebut mencakup pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya. Hal tersebut sebagai imbalan atas dihentikannya blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran.
Vance juga menyebut bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz telah mengalami peningkatan dalam 24 jam terakhir. Meski demikian, data pelacakan menunjukkan kenaikan yang masih terbatas.
Perusahaan pelacakan kapal Kpler menyatakan belum terlihat lonjakan signifikan atau eksodus besar dari kawasan Teluk Persia. Perusahaan pelayaran Frontline memperkirakan aktivitas kapal akan meningkat setelah kesepakatan resmi ditandatangani.
Meski demikian, masih ada kekhawatiran terkait kejelasan aturan transit. Bimco, organisasi perdagangan pelayaran global, menilai situasi saat ini masih belum cukup jelas dan berisiko bagi pelayaran internasional.
Bimco juga memperingatkan adanya ancaman ranjau di Selat Hormuz yang masih menjadi perhatian utama. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri AS sebelumnya menyebut bahwa Iran telah memasang ranjau di beberapa wilayah selat tersebut.
Menurut analis Bimco, dibutuhkan waktu beberapa minggu untuk mengeluarkan ratusan kapal yang masih terjebak di Teluk Persia. Hingga kini, pelaku industri pelayaran masih menunggu kepastian implementasi kesepakatan, sementara situasi di Selat Hormuz dinilai tetap tidak stabil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....