Harapan Gencatan Senjata, Ribuan Pengungsi Lebanon Pulang

  • 17 Jun 2026 13:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pengungsi yang kembali ke Lebanon selatan mendapati rumah, lingkungan, dan mata pencaharian mereka hancur akibat berbulan-bulan serangan Israel.
  • Kelompok riset Information International memperkirakan kerugian akibat serangan terbaru mencapai sedikitnya US$5 miliar (Rp88,6 triliun), sementara total kerusakan sejak Oktober 2023 mencapai sekitar US$15 miliar (Rp266 triliun).
  • Sejumlah wilayah di Lebanon selatan masih berada di bawah pendudukan Israel atau dekat zona militer.

RRI.CO.ID, Beirut — Ribuan warga Lebanon mulai kembali ke desa-desa mereka di wilayah selatan setelah berbulan-bulan mengungsi akibat perang. Kepulangan mereka disambut rumah-rumah yang hancur, lingkungan yang porak-poranda, dan mata pencaharian yang musnah akibat serangan Israel.

Melansir dari Anadolu, Rabu, 17 Juni 2026, jalan-jalan menuju Lebanon selatan dipadati para pengungsi yang kembali ke kampung halaman. Kepulangan warga meningkat setelah diumumkannya kesepahaman Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik di beberapa kawasan, termasuk Lebanon.

Banyak warga menganggap perkembangan tersebut sebagai kesempatan nyata pertama untuk kembali ke rumah. Namun, bagi sebagian besar dari mereka, kepulangan itu berubah menjadi pengalaman yang menyakitkan ketika menyaksikan besarnya kerusakan.

Kelompok riset swasta Information International memperkirakan kerugian akibat serangan terbaru mencapai sedikitnya 5 miliar dolar AS (Rp88,6 triliun). Sementara itu, total kerusakan akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 diperkirakan mencapai sekitar 15 miliar dolar AS (Rp266 triliun).

Meski banyak warga telah kembali, sejumlah kota di Lebanon selatan masih berada di bawah pendudukan Israel atau berada di dekat zona militer. Kondisi tersebut membuat wilayah-wilayah itu belum aman untuk kembali dihuni.

Ini bukan kali pertama warga mencoba kembali ke rumah mereka, karena beberapa kesepakatan gencatan senjata sebelumnya berulang kali gagal. Ketegangan di kawasan meningkat sejak akhir Februari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Iran kemudian membalas dengan menyerang negara-negara Teluk dan Israel serta membatasi pelayaran di Selat Hormuz. Washington dan Teheran akhirnya mencapai gencatan senjata sementara melalui mediasi Pakistan sebelum mengumumkan kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....