IMF: Pemulihan Energi Global Butuh Waktu meski AS–Iran Sepakat Damai
- 16 Jun 2026 15:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IMF menyambut positif kesepakatan gencatan senjata, namun menilai pemulihan pasokan energi akan memakan waktu akibat kerusakan infrastruktur.
- Negara pengimpor energi seperti Ethiopia, Malawi, dan Zambia mengalami tekanan berupa kelangkaan dan kenaikan harga energi.
- IMF akan merilis World Economic Outlook pada 8 Juli serta telah menyalurkan atau mempercepat bantuan ke beberapa negara, sementara negara Teluk diprediksi mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi.
RRI.CO.ID, Washington — Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) menyambut gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, IMF memperingatkan bahwa pemulihan sektor energi akan memakan waktu, dilansir dari France24, Selasa, 16 Juni 2026.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan, proses pemulihan sangat bergantung pada durasi dan intensitas guncangan pasokan energi akibat konflik. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata yang diumumkan pada Minggu, 14 Juni 2026 membawa kelegaan bagi pasar global.
Namun, pemulihan pasokan energi tidak dapat berlangsung cepat karena adanya kerusakan infrastruktur yang signifikan. Kesepakatan antara AS dan Iran tersebut mencakup penghentian konflik di Timur Tengah serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Georgieva menambahkan bahwa IMF akan merilis pembaruan World Economic Outlook pada 8 Juli mendatang. Sebelumnya, lembaga tersebut telah menurunkan proyeksi pertumbuhan global akibat dampak perang.
IMF sebelumnya juga memperkirakan skenario terburuk dengan pertumbuhan hanya 2 persen serta inflasi di atas 6 persen. IMF juga menyoroti bahwa risiko terhadap pertumbuhan global masih tinggi dan dampak konflik tidak merata di berbagai negara.
Negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi dan memiliki ruang kebijakan terbatas disebut paling rentan terdampak. Beberapa negara seperti Ethiopia, Malawi, dan Zambia mengalami tekanan berupa kelangkaan bahan bakar dan kenaikan harga energi.
Sementara itu, IMF telah memberikan akses dana lebih cepat kepada beberapa negara seperti Ethiopia, Gambia, dan Burkina Faso. IMF juga tengah membahas program bantuan baru untuk Malawi.
IMF menyebut negara-negara eksportir minyak di Teluk juga mengalami dampak serius akibat perang. Dampak tersebut berupa proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi, bahkan kontraksi di beberapa negara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....