Iran Rinci Kesepakatan dengan AS, Bahas Nuklir hingga Selat Hormuz

  • 13 Jun 2026 17:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Iran memaparkan rincian MoU dengan Amerika Serikat yang mencakup penghentian konflik di seluruh front, termasuk Lebanon, serta komitmen kedua pihak untuk tidak memulai perang baru dan menghormati kedaulatan masing-masing.
  • Negosiasi tahap kedua akan membahas isu-isu strategis, seperti pencabutan sanksi terhadap Iran, masa depan program nuklir, pengelolaan uranium yang diperkaya, serta pembentukan dana rekonstruksi pascakonflik.
  • Selat Hormuz menjadi salah satu fokus utama kesepakatan, dengan Iran menegaskan kedaulatannya bersama Oman atas jalur pelayaran tersebut, sambil mendorong pencabutan blokade laut AS dan pencairan aset Iran yang dibekukan.

RRI.CO.ID, Teheran — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, merinci isi MoU yang sedang dirundingkan dengan Amerika Serikat. Memorandum tersebut disusun untuk mengakhiri konflik antara kedua negara, dilansir dari Anadolu, Sabtu, 13 Juni 2026.

Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, IRIB, Araghchi mengatakan dokumen tersebut akan mengakhiri konflik di seluruh front, termasuk di Lebanon. Araghchi menjelaskan bahwa dokumen tersebut dikenal sebagai Memorandum Saling Pengertian Islamabad karena proses perundingannya dimediasi oleh Pakistan.

Ia mengatakan, MoU tersebut mencakup komitmen kedua pihak untuk tidak memulai perang baru dan tidak mengancam dengan penggunaan kekuatan militer. Selain itu, Iran dan Amerika Serikat juga sepakat untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing.

Selain itu, Iran dan Amerika Serikat juga akan berkomitmen untuk saling menghormati kedaulatan satu sama lain. Ia menegaskan Iran menginginkan Israel menarik diri dari wilayah yang didudukinya di Lebanon selatan sebagai bagian dari penghentian konflik.

Araghchi mengtakan, proses negosiasi akan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penandatanganan memorandum saling pengertian, sedangkan tahap kedua berupa perundingan untuk mencapai kesepakatan final yang lebih komprehensif.

Pada tahap kedua, pembahasan akan difokuskan pada pencabutan sanksi terhadap Iran. Negosiasi juga akan mencakup masa depan program nuklir Iran serta pengelolaan cadangan uranium yang telah diperkaya.

Selain itu, kedua pihak akan membahas pembentukan dana rekonstruksi untuk mendukung pemulihan pascakonflik. Negosiasi tahap kedua diperkirakan berlangsung selama 60 hari.

Namun, periode tersebut dapat diperpanjang apabila kedua pihak menilai terdapat kemajuan yang memadai dalam proses perundingan. Terkait Selat Hormuz, Araghchi mengatakan, jalur pelayaran strategis tersebut akan tetap berada di bawah kedaulatan Iran dan Oman.

Meski demikian, sistem pengelolaannya akan berbeda dibandingkan dengan sebelum perang. Araghchi mengatakan Iran tidak berencana mengenakan tarif transit bagi kapal yang melintas, meskipun biaya layanan tertentu tetap dapat diberlakukan.

Iran menuntut pencabutan penuh blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat serta pencairan seluruh aset Iran yang selama ini dibekukan. Ia menegaskan uranium yang diperkaya tingkat tinggi harus ditangani di dalam wilayah Iran dan tidak dipindahkan ke negara lain.

Menurut Araghchi, rancangan memorandum tersebut telah diawasi dan ditinjau oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Meski masih terdapat perbedaan pandangan di kalangan pejabat Iran, keputusan akhir akan diambil secara kolektif.

Araghchi mengatakan, memorandum yang terdiri dari 14 klausul itu dapat ditandatangani dalam beberapa hari ke depan. Hal tersebut dapat dilakukan apabila tahap akhir negosiasi berhasil diselesaikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....