Iran Sebut Kesepakatan Awal dengan AS Berpotensi Tercapai Pekan Ini
- 13 Jun 2026 14:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Iran menyatakan MoU dengan Amerika Serikat dapat ditandatangani dalam beberapa hari ke depan, sebagai langkah awal menuju kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri konflik dan mencegah pecahnya perang baru.
- Tahap kedua perundingan akan berlangsung selama 60 hari, dengan fokus pada program nuklir Iran, pencabutan sanksi, pencairan aset yang dibekukan, serta isu strategis seperti Selat Hormuz dan penghentian konflik di Lebanon.
- Teheran dan Washington terus mendekati kesepakatan, sementara Presiden Donald Trump menyebut perjanjian tersebut sudah sangat dekat untuk dicapai setelah kedua negara bertukar proposal perdamaian melalui mediasi Pakistan.
RRI.CO.ID, Teheran — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik dapat ditandatangani beberapa hari ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran pada Jumat, 12 Juni 2026, dilansir dari Xinhua.
Araghchi mengatakan, proses finalisasi dokumen masih berlangsung. MoU tersebut akan ditandatangani secara digital oleh kedua pihak di negara masing-masing sebelum diumumkan secara resmi kepada publik.
Menurutnya, MoU ini menjadi tahap awal menuju kesepakatan yang lebih luas antara Teheran dan Washington. Setelah penandatanganan, kedua pihak akan berkomitmen untuk tidak memulai konflik baru dan melanjutkan perundingan tahap berikutnya.
Tahap kedua negosiasi dijadwalkan berlangsung selama 60 hari dengan tujuan mencapai kesepakatan final. Pembahasan akan berfokus pada sejumlah isu utama, termasuk program nuklir Iran dan pencabutan sanksi yang diberlakukan terhadap negara tersebut.
Araghchi mengatakan, Iran bersikeras uranium yang diperkaya harus ditangani di dalam wilayahnya sendiri. Teheran juga menolak kemungkinan pemindahan material tersebut ke negara lain sebagai bagian dari kesepakatan.
Ia mengatakan, MoU yang sedang dibahas akan mencakup penghentian konflik di berbagai front, termasuk di Lebanon. Dalam kerangka tersebut, Israel disebut harus menarik diri dari wilayah yang saat ini didudukinya.
Selain itu, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu poin penting dalam kesepakatan. MoU juga mencakup pencabutan blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran serta pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan.
Mengenai Selat Hormuz, Araghchi menekankan, pengelolaannya tidak akan kembali seperti sebelum perang. Iran akan tetap mempertahankan kedaulatan dan kehadiran militernya di kawasan tersebut.
Meski demikian, sistem hukum baru yang sesuai dengan hukum internasional akan diterapkan. Menuutnya, Iran tidak berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Meski demikian, penerapan biaya layanan tertentu dinilai tetap memungkinkan dalam pengelolaan jalur pelayaran tersebut. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sudah sangat dekat untuk dicapai.
Dalam beberapa pekan terakhir, Iran dan Amerika Serikat terus bertukar proposal perdamaian melalui mediasi Pakistan untuk merampungkan MoU. Kesepakatan awal tersebut diharapkan dapat mengakhiri konflik dan membuka jalan menuju perjanjian yang lebih permanen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....