PBB: Kekurangan Dana Bantuan Ancam Layanan Kemanusiaan bagi Warga Gaza
- 06 Jun 2026 14:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PBB memperingatkan kekurangan dana bantuan kemanusiaan untuk Gaza dan Tepi Barat, yang baru terpenuhi kurang dari 15 persen dari kebutuhan 4,1 miliar dolar AS pada 2026.
- Krisis pendanaan memaksa pengurangan layanan penting, termasuk distribusi air dan makanan, sehingga lebih dari 330.000 warga Gaza terancam kehilangan akses utama terhadap air minum.
- OCHA dan UNICEF mendesak peningkatan dukungan internasional karena keterbatasan dana telah memengaruhi layanan kesehatan, pendidikan, pengungsian, serta meningkatkan risiko penyebaran penyakit di Gaza.
RRI.CO.ID, Jenewa — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa kekurangan dana bantuan kemanusiaan mengancam kehidupan warga Gaza. Krisis pendanaan tersebut telah memaksa pengurangan berbagai layanan penting, dilansir dari Xinhua, Sabtu, 6 Juni 2026.
Kondisi ini terjadi ketika sebagian besar penduduk Gaza masih bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Kebutuhan dana bantuan untuk Gaza dan Tepi Barat pada 2026 mencapai 4,1 miliar dolar AS (Rp74,1 triliun).
Hal tersebut disampaikan oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). Namun, hingga pertengahan tahun, kebutuhan tersebut baru terpenuhi kurang dari 15 persen.
Kekurangan dana tersebut dinilai telah melemahkan kemampuan organisasi kemanusiaan dalam merencanakan dan menyalurkan bantuan secara efektif. OCHA mencatat sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Gaza hidup dalam kondisi pengungsian dan sangat bergantung pada layanan kemanusiaan.
Pada akhir Mei, empat mitra kemanusiaan terpaksa mulai mengurangi layanan distribusi air menggunakan truk akibat keterbatasan pendanaan. Akibatnya, lebih dari 330.000 orang di sekitar 250 lokasi berisiko kehilangan sumber utama air minum mereka.
Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) memperingatkan bahwa krisis air yang semakin parah menimbulkan risiko kesehatan serius. Banyak keluarga terpaksa memilih antara menggunakan air untuk minum atau menjaga kebersihan diri.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat meningkatkan penyebaran berbagai penyakit. Selain krisis air, OCHA juga melaporkan penurunan tajam jumlah makanan yang didistribusikan setiap hari.
Hingga pekan lalu, sebanyak 678.000 porsi makanan disalurkan per hari, turun dari 1,5 juta porsi per hari pada pertengahan Maret. Program pemulihan pertanian, pengelolaan lokasi pengungsian, pendidikan, serta ruang aman bagi perempuan dan anak perempuan juga terdampak keterbatasan dana.
OCHA mendesak para donor internasional untuk segera meningkatkan dukungan finansial guna mencegah penghentian layanan lebih lanjut. PBB juga meminta negara-negara anggotanya menekan Israel agar mencabut berbagai pembatasan yang dinilai menghambat penyaluran bantuan kemanusiaan.
UNICEF telah menyalurkan bantuan darurat berupa perlengkapan bayi, perlengkapan rekreasi, dan kebutuhan kebersihan kepada keluarga-keluarga tersebut. OCHA menambahkan bahwa bantuan lain, seperti makanan, tenda, peralatan dapur, layanan kesehatan, dan bantuan tunai, sedang dipersiapkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....