WHO Tekankan Deteksi Dini jadi Kunci Penanganan Wabah Ebola

  • 31 Mei 2026 12:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • WHO menegaskan deteksi dini dan mobilisasi komunitas sebagai kunci utama dalam pengendalian wabah Ebola strain Bundibugyo di DRC dan Uganda, di tengah upaya penanganan yang masih berlangsung.
  • Hingga 28 Mei 2026, tercatat 906 kasus suspek di DRC dengan 125 kasus terkonfirmasi, sementara Uganda melaporkan 7 kasus terkonfirmasi yang semuanya terkait dengan DRC dan belum ada penularan komunitas.
  • WHO tengah meninjau vaksin dan terapi potensial, termasuk kandidat vaksin, antivirus obeldesivir, serta tiga terapi utama, sambil menghadapi tantangan akses di wilayah konflik.

RRI.CO.ID, Jenewa — WHO menekankan bahwa deteksi dini merupakan faktor kunci dalam upaya pengendalian wabah Ebola. Wabah tersebut disebabkan oleh strain langka Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda.

Organisasi tersebut juga menyoroti pentingnya mobilisasi komunitas untuk menghentikan penularan dan menyelamatkan lebih banyak nyawa. Sementara itu, vaksin dan pengobatan masih berada dalam tahap penilaian, dilansir dari Xinhua.

Hingga Kamis, 28 Mei 2026, tercatat 906 kasus suspek di DRC dengan 223 kematian yang masih bersifat suspek. Dari jumlah tersebut, 125 kasus telah terkonfirmasi yang tersebar di wilayah Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.

Uganda melaporkan tujuh kasus terkonfirmasi termasuk satu kematian yang semuanya terkait dengan wabah di Republik Demokratik Kongo (DRC). Hingga saat ini, tidak ditemukan bukti penularan di komunitas di Uganda.

Pejabat teknis WHO, Anais Legand, dalam pengarahan di Jenewa menjelaskan, Ebola sering menular saat seseorang merawat anggota keluarga yang sakit. Ia menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi hal yang sangat penting untuk memutus rantai penularan.

Di sisi medis, WHO sedang meninjau berbagai langkah penanggulangan, termasuk dua kandidat vaksin yang akan dievaluasi setelah dosis tersedia. Selain itu, obat antivirus oral obeldesivir diprioritaskan sebagai langkah pencegahan pascapajanan bagi kontak kasus terkonfirmasi.

Tiga kandidat terapi telah diprioritaskan untuk uji klinis pengobatan, yaitu antibodi monoklonal MBP 134 dan maftivimab, serta antivirus remdesivir. WHO juga mendorong peningkatan perawatan intensif serta upaya agar masyarakat lebih cepat mengenali gejala penyakit.

WHO memperkirakan tingkat kematian strain Ebola ini berada di kisaran 30 hingga 50 persen berdasarkan wabah sebelumnya. Di tengah situasi kemanusiaan yang kompleks, WHO terus bekerja sama dengan otoritas DRC dan Uganda.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan gencatan senjata kepada kelompok bersenjata. Seruan itu bertujuan agar petugas kesehatan dapat menjangkau masyarakat yang terdampak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....