Wabah Ebola Landa Republik Demokratik Kongo, WHO Serukan Gencatan Senjata

  • 30 Mei 2026 23:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros AdhanomGhebreyesus menyerukan gencata senjata di Republik Demokratik Kongo (DRC), menyusulnegara itu yang dilanda wabah Ebola.
  • Sebelum kedatangannya, Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta kelompok-kelompok bersenjata untuk menyatakan gencatan senjata.
  • Ini menandai ke-17 kalinya DRC menghadapi Ebola sejak virus tersebut pertama kali ditemukan pada tahun 1976.

RRI.CO.ID, Kinshasa - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan gencata senjata di Republik Demokratik Kongo (DRC). Menyusul negara itu yang dilanda wabah Ebola dan Dirjen Tedros tengah menuju DRC pada Kamis, 28 Mei 2026, dilansir UN News.

Sebelum kedatangannya, Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta kelompok-kelompok bersenjata untuk menyatakan gencatan senjata. Agar para petugas kesehatan dapat menjangkau masyarakat dan menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Dalam pesan tertulisnya kepada rakyat DRC, khususnya mereka yang berada di provinsi Ituri, pusat krisis wabah Ebola, Tedros menggarisbawahi solidaritas WHO. “Kami bekerja di bawah kepemimpinan Pemerintah DRC, bersama dengan semua mitra terkait, bersatu dalam satu tujuan: menghentikan wabah ini dan melindungi komunitas Anda,” ucapnya.

“Tidak ada yang bekerja sendirian, tidak ada yang bekerja saling bertentangan. Kami terkoordinasi, kami berkomitmen, dan kami ada di sini.”

Tedros menyoroti peran penting kaum muda, mendesak mereka untuk berbicara dengan teman dan keluarga mereka. Serta, berbagi apa yang mereka ketahui tentang Ebola dalam upaya membantu mematahkan rasa takut dan keheningan yang memungkinkan virus ini menyebar.

“Itulah mengapa hari ini saya menyampaikan permohonan langsung kepada semua pihak yang bertikai di wilayah ini: mohon, umumkan gencatan senjata, sekalipun hanya sebentar. Bahkan hanya cukup untuk membiarkan petugas kesehatan lewat,” katanya menambahkan.

“Orang-orang meninggal karena Ebola padahal seharusnya tidak, anak-anak sakit, keluarga menderita. Tidak ada alasan, tidak ada konflik, tidak ada keluhan yang sebanding dengan mengutuk orang-orang yang tidak bersalah hingga mati karena penyakit yang dapat dicegah.”

Dirjen WHO itu menekankan gencatan senjata bahkan yang sementara, akan menyelamatkan nyawa. “Saya mendesak Anda, saya memohon kepada Anda: beri kami ruang untuk membantu orang-orang yang paling membutuhkannya,” ucapnya menekankan.

Sejak 15 Mei, badan-badan PBB mendukung DRC dan negara tetangganya, Uganda, untuk menahan wabah yang disebabkan strain Bundibugyo yang langka dari virus Ebola, yang belum ada pengobatannya. Hingga Rabu, terdapat lebih dari 900 kasus yang diduga, 105 kasus yang dikonfirmasi, dan 10 kematian yang dikonfirmasi di DRC, sementara Uganda melaporkan tujuh kasus yang dikonfirmasi dan satu kematian.

Sementara, ini menandai ke-17 kalinya DRC menghadapi Ebola sejak virus tersebut pertama kali ditemukan pada tahun 1976. Wabah terbesar yang menyebar di provinsi Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Ituri terjadi dari tahun 2018 hingga 2020.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....