WHO: Wabah Ebola di Kongo Sulit Dikendalikan akibat Perang dan Krisis

  • 29 Mei 2026 12:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • WHO memperingatkan wabah Ebola di DRC semakin sulit dikendalikan karena konflik bersenjata, serangan terhadap fasilitas kesehatan, dan krisis kelaparan di wilayah timur negara tersebut.
  • Direktur Jenderal PBB menyebut strain Ebola Bundibugyo yang menyebar belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui, sementara pelacakan kontak dan isolasi pasien hampir tidak mungkin dilakukan akibat situasi keamanan yang buruk.
  • DRC melaporkan hampir 1.000 kasus dugaan Ebola dan lebih dari 220 dugaan kematian, sementara wabah telah menyebar ke 11 zona kesehatan dan melintasi perbatasan ke Uganda.

RRI.CO.ID, Kinshasa — WHO memperingatkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terjadi di tengah konflik bersenjata dan krisis kelaparan yang semakin parah. Situasi keamanan yang buruk di provinsi Ituri membuat upaya penanganan wabah menjadi sangat sulit.

Melansir dari situs resmi WHO, Jumat, 29 Mei 2026, hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Virus yang menyebar merupakan Ebola strain Bundibugyo, yang pertama kali diidentifikasi di Uganda pada 2007.

Hingga kini, varian virus tersebut belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui. Tedros menegaskan bahwa pelacakan kontak dan isolasi kasus hampir tidak mungkin dilakukan.

Hal tersebut disebabkan oleh kondisi konflik, serangan terhadap fasilitas kesehatan, serta perpindahan penduduk. Ia juga menambahkan bahwa membangun kepercayaan masyarakat tidak dapat dilakukan ketika situasi perang masih berlangsung.

DRC telah melaporkan hampir 1.000 kasus dugaan Ebola dengan lebih dari 220 kematian yang dicurigai. Meski demikian, hanya satu kasus kematian yang telah terkonfirmasi secara laboratorium.

Di negara tetangga Uganda, tercatat tujuh kasus terkonfirmasi yang terkait wabah tersebut, termasuk dua tenaga kesehatan, serta satu kematian terkonfirmasi. WHO menyebut wabah ini terus menyebar secara geografis dan bahkan telah melintasi batas negara.

Kasus kini ditemukan di 11 zona kesehatan, termasuk di provinsi North Kivu seperti Butembo dan Goma, serta di South Kivu. Penularan terjadi melalui klaster keluarga dan fasilitas kesehatan, termasuk saat merawat pasien, pertemuan keluarga, dan praktik pemakaman tidak aman.

Upaya penanggulangan wabah ini berlangsung di wilayah timur DRC yang dilanda konflik berkepanjangan. Kekerasan tersebut telah menewaskan ratusan warga sipil, memicu pengungsian besar-besaran, serta menghambat akses bantuan kemanusiaan dan layanan kesehatan.

Situasi semakin memburuk dengan krisis kelaparan. Hampir 10 juta orang di wilayah Ituri, North Kivu, South Kivu, dan Tanganyika menghadapi kelaparan akut antara Januari hingga Juni 2026.

Secara nasional, puluhan juta orang di DRC mengalami kerawanan pangan tingkat tinggi. WHO menekankan bahwa konflik, infrastruktur yang rusak, dan kondisi keamanan yang buruk telah menghambat pergerakan bantuan dan layanan kesehatan.

Banyak fasilitas kesehatan tidak berfungsi atau hanya beroperasi secara terbatas akibat situasi tidak aman. Direktur Jenderal WHO menyerukan gencatan senjata segera.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....