Negosiasi AS dan Iran Alami Kemajuan, Selat Hormuz-Uranium Masih Jadi Hambatan

  • 27 Mei 2026 16:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Amerika Serikat dan Iran menunjukkan kemajuan dalam pembicaraan damai, namun masih berselisih mengenai stok uranium Iran dan pengelolaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
  • Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan sistem pungutan biaya di Selat Hormuz tidak dapat diterima, sementara Presiden AS Donald Trump menolak upaya pengendalian jalur internasional tersebut.
  • Iran menyatakan proposal terbaru AS telah mempersempit perbedaan kedua pihak, tetapi tetap menolak menyerahkan stok uranium yang diperkaya dan menegaskan program nuklirnya bertujuan damai.

RRI.CO.ID, Washington — Amerika Serikat dan Iran menunjukkan tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Meski demikian, kedua negara masih berselisih mengenai stok uranium Iran yang diperkaya dan pengelolaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan, terdapat “tanda-tanda positif” bahwa kesepakatan damai mulai terlihat. Namun, lanjut dia, kesepakatan tersebut akan sulit tercapai apabila Iran tetap berupaya mengendalikan pelayaran melalui Selat Hormuz secara permanen.

Melansir dari CNBC, Rabu, 27 Mei 2026, Rubio menyebut sistem pungutan biaya di Selat Hormuz tidak dapat diterima oleh masyarakat internasional. Ia juga memperingatkan bahwa pemerintah AS memiliki opsi lain apabila kesepakatan damai gagal dicapai.

Sementara itu, Iran menyatakan proposal terbaru dari Washington telah mempersempit perbedaan antara kedua pihak. Pemerintah Iran saat ini masih meninjau usulan AS berdasarkan kerangka 14 poin yang sebelumnya diajukan Teheran.

Kantor berita semi-resmi Iran, ISNA, melaporkan bahwa pengurangan perbedaan masih memerlukan penghentian ancaman perang dari Washington. Meski ada kemajuan, negosiasi perdamaian disebut masih berjalan lambat dalam beberapa pekan terakhir.

Di tengah situasi tersebut, Iran dan AS tetap berada dalam gencatan senjata yang rapuh. Iran dilaporkan memblokade Selat Hormuz, sementara AS menjalankan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Presiden AS, Donald Trump, menolak usulan sistem pembayaran untuk lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Menurutnya, jalur tersebut harus tetap terbuka dan bebas karena merupakan perairan internasional.

Isu uranium yang diperkaya juga menjadi hambatan utama dalam negosiasi. Washington mendesak Teheran menyerahkan stok uranium karena khawatir dapat digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Namun Iran menolak tuntutan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dilaporkan melarang pengiriman uranium Iran yang mendekati tingkat senjata ke luar negeri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....