Iran Sebut Proposal Baru AS Persempit Perbedaan Diplomasi

  • 23 Mei 2026 13:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Iran menyatakan proposal terbaru Amerika Serikat telah mempersempit perbedaan dalam upaya mengubah gencatan senjata menjadi kesepakatan damai permanen, namun Teheran menuntut penghentian ancaman perang dan pencabutan blokade pelabuhan Iran.
  • Negosiasi masih menghadapi hambatan besar karena AS meminta Iran menyerahkan stok uranium berpengayaan tinggi dan menghentikan pengayaan uranium selama satu dekade, tuntutan yang ditolak Teheran.
  • Ketegangan diplomatik memengaruhi pasar global, dengan harga minyak dunia melonjak hingga 107 dolar AS per barel setelah muncul laporan terkait uranium Iran dan ancaman baru dari kedua pihak.

RRI.CO.ID, Teheran - Iran menyatakan proposal terbaru Amerika Serikat (AS) mempersempit perbedaan diplomasi kedua negara. Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat peluang kesepakatan damai permanen.

Laporan Islamic Students News Agency (ISNA) menyebut proposal membantu menjembatani sejumlah perbedaan penting. Namun Teheran meminta Washington menghentikan ancaman perang terhadap Iran.

Kemajuan diplomasi dinilai membutuhkan suasana politik yang lebih kondusif. “Proposal terbaru membantu menjembatani sebagian perbedaan antara kedua pihak,” tulis laporan ISNA, dikutip Sabtu, 23 Mei 2026.

Pertukaran pesan kedua negara mengacu pada proposal 14 poin dari Iran sebelumnya. Salah satu poin mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran.

Sebagai imbalan, Amerika Serikat diminta mencabut blokade pelabuhan-pelabuhan Iran terlebih dahulu. Pembahasan lanjutan program nuklir baru dilakukan setelah langkah tersebut.

Iran juga meminta penghentian konflik di berbagai kawasan termasuk Lebanon dan Timur Tengah. Selain itu, Teheran menuntut pencairan aset akibat sanksi internasional.

Di tengah proses diplomasi, Asim Munir mengunjungi Teheran sebagai mediator. Pakistan disebut mengambil peran penting menjembatani komunikasi kedua negara.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyebut diplomasi memasuki tahap akhir. Pernyataan itu sempat memicu optimisme pasar global dan investor.

Pernyataan Trump sekaligus mendorong kenaikan obligasi dan penurunan harga minyak. “Diplomasi dengan Iran telah memasuki tahap akhir,” ujar Trump, dalam pernyataannya.

Namun, Trump juga memperingatkan kemungkinan serangan baru jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan. Salah satu hambatan terbesar menyangkut pengayaan uranium Iran.

Iran menolak tuntutan penghentian pengayaan uranium selama satu dekade penuh. Teheran juga menegaskan tidak akan menyerah terhadap tekanan Washington.

Laporan Reuters menyebut Iran membuka peluang memindahkan material uranium ke Rusia. Ketegangan tersebut turut mendorong harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....