PBB Peringatkan Sistem Kesehatan Gaza di Ambang Krisis akibat Kekurangan Pasokan

  • 22 Mei 2026 14:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PBB melalui OCHA memperingatkan sistem kesehatan di Gaza berada dalam kondisi kritis akibat kekurangan pasokan penting, tekanan konflik berkepanjangan, dan serangan terhadap fasilitas medis.
  • WHO mendokumentasikan 22 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Gaza yang menyebabkan korban jiwa serta mengganggu operasional rumah sakit, klinik, ambulans, dan transportasi medis.
  • Krisis kemanusiaan di Gaza juga memperburuk akses air bersih dan layanan pengobatan, dengan sebagian besar warga bergantung pada distribusi air truk serta banyak permohonan izin medis pasien Gaza ditolak atau tertunda.

RRI.CO.ID, Jenewa — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa sistem kesehatan di Jalur Gaza berada dalam kondisi kritis. Kondisi tersebut dipicu oleh kekurangan pasokan penting dan tekanan yang terus meningkat akibat konflik berkepanjangan.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam laporan hariannya menyatakan, layanan kesehatan di Gaza masih menghadapi tekanan sangat besar. OCHA menegaskan perlunya segera mengizinkan masuknya pasokan penting guna mencegah kerusakan total pada peralatan medis vital.

OCHA mengungkapkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendokumentasikan 22 serangan terhadap fasilitas dan layanan kesehatan di Gaza. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa serta berdampak pada fasilitas medis dan transportasi kesehatan, dilansir dari WAFA Agency, Jumat, 22 Mei 2026.

Akibat situasi tersebut, rumah sakit, klinik, serta layanan ambulans menghadapi gangguan operasional yang semakin berat. Infrastruktur kesehatan yang sudah terbatas kini harus bekerja di tengah ancaman kerusakan dan minimnya dukungan logistik.

Selain krisis layanan medis, OCHA juga menyoroti memburuknya akses terhadap air bersih di Gaza. Para mitra kemanusiaan melaporkan bahwa sebagian besar warga kini mengalami kesulitan memperoleh pasokan air yang aman.

Menurut OCHA, tiga dari setiap empat keluarga di Gaza saat ini bergantung pada air yang dikirim menggunakan truk. Organisasi bantuan kemanusiaan mendistribusikan sekitar 24 ribu meter kubik air setiap hari melalui sekitar 2.000 titik distribusi di berbagai wilayah.

Namun, operasi distribusi tersebut menghadapi tantangan serius karena sangat bergantung pada generator dan mesin pendukung. OCHA memperingatkan peralatan itu berisiko mengalami kerusakan akibat keterbatasan bahan pemeliharaan dan perbaikan.

Secara terpisah, WHO juga menyoroti hambatan yang dihadapi pasien Gaza untuk mendapatkan perawatan medis di luar wilayah tersebut. Lebih dari sepertiga permohonan izin pasien untuk menjalani pengobatan di Yerusalem Timur dan Israel ditolak atau mengalami penundaan.

WHO mencatat tingkat persetujuan izin pasien kini jauh lebih rendah dibandingkan sebelum perang pecah pada Oktober 2023. Pada periode sebelum konflik, lebih dari dua pertiga permohonan perawatan medis mendapat persetujuan.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza juga memperburuk akses warga terhadap layanan dasar seperti air bersih dan pengobatan. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran internasional terhadap keberlangsungan layanan kemanusiaan di wilayah tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....