UEA Percepat Proyek Pipa Minyak untuk Kurangi Ketergantungan pada Selat Hormuz

  • 16 Mei 2026 16:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Uni Emirat Arab mempercepat pembangunan pipa minyak baru untuk menggandakan kapasitas ekspor melalui Fujairah pada 2027 dan mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.
  • Proyek Pipa Barat-Timur yang dikerjakan ADNOC dinilai penting untuk memperkuat ekspor minyak langsung dari pesisir Teluk Oman tanpa melewati jalur strategis Selat Hormuz.
  • Krisis Selat Hormuz akibat konflik Iran dengan AS dan Israel telah mengganggu pasokan minyak global, memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia.

RRI.CO.ID, Abu Dhabi — Uni Emirat Arab (UEA) mempercepat proyek pembangunan pipa minyak baru untuk meningkatkan kapasitas ekspor energi negara tersebut. Proyek itu ditujukan untuk memperbesar jalur ekspor melalui Fujairah dan mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

Kantor Media Abu Dhabi pada Jumat, 15 Mei 2026 menyatakan kapasitas ekspor minyak UEA ditargetkan meningkat dua kali lipat pada 2027. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dan gangguan pasokan energi global di kawasan Teluk, dilansir dari Arab News.

Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed menginstruksikan Abu Dhabi National Oil Company mempercepat pembangunan proyek Pipa Barat-Timur. Proyek tersebut saat ini masih berada dalam tahap konstruksi dan diperkirakan mulai beroperasi pada 2027.

Pemerintah UEA tidak mengungkap jadwal awal proyek tersebut kepada publik. Namun, proyek ini dinilai penting untuk memperkuat kemampuan ekspor minyak langsung dari pesisir Teluk Oman tanpa harus melewati Selat Hormuz.

UEA saat ini telah memiliki jalur Abu Dhabi Crude Oil Pipeline atau ADCOP yang juga dikenal sebagai pipa Habshan-Fujairah. Jalur tersebut mampu mengalirkan hingga 1,8 juta barel minyak per hari dan menjadi infrastruktur penting dalam strategi ekspor energi negara itu.

Selain UEA, Arab Saudi juga memiliki jalur pipa ekspor minyak di luar Selat Hormuz. Sementara itu, Oman memiliki keuntungan geografis karena garis pantainya yang panjang di Teluk Oman.

Selat Hormuz yang berada di antara Iran dan Oman sebelumnya ditutup Iran sebagai respons terhadap konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan tersebut mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak global yang biasanya dikirim ke Asia dan wilayah lainnya.

Kuwait, Irak, Qatar, dan Bahrain menjadi negara-negara yang sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman minyak mereka. Gangguan pasokan akibat krisis tersebut mendorong lonjakan harga energi dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi serta perlambatan ekonomi global.

Sejumlah pemerintah juga mulai melakukan pembatasan bahan bakar untuk menjaga stabilitas pasokan domestik. Krisis Selat Hormuz kini menjadi perhatian utama pasar energi internasional karena dampaknya terhadap keamanan dan perdagangan energi global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....