WHO: Vaksin Ebola Varian Bundibugyo Bisa Memakan Waktu Sembilan Bulan

  • 21 Mei 2026 14:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • WHO memperingatkan pengembangan vaksin Ebola varian Bundibugyo bisa memakan waktu hingga sembilan bulan, sementara hingga kini belum ada vaksin maupun obat yang disetujui untuk varian tersebut.
  • Wabah Ebola di Kongo dan Uganda terus meluas dengan sekitar 600 kasus dugaan dan 139 dugaan kematian, serta risiko penyebaran dinilai tinggi di tingkat nasional dan regional.
  • Kondisi di wilayah terdampak semakin mengkhawatirkan karena fasilitas kesehatan mulai kewalahan, tenaga medis ikut terinfeksi, dan konflik berkepanjangan di timur Kongo memperumit penanganan wabah.

RRI.CO.ID, Jenewa - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa pengembangan vaksin Ebola untuk varian Bundibugyo dapat memakan waktu hingga sembilan bulan. Hingga kini, dua kandidat vaksin sedang dikembangkan, namun keduanya belum memasuki tahap uji klinis.

Melansir dari BBC News, Kamis, 21 Mei 2026, pernyataan tersebut disampaikan penasihat WHO Dr. Vasee Moorthy. WHO melaporkan terdapat sekitar 600 kasus dugaan Ebola dan 139 dugaan kematian yang tercatat sejauh ini.

WHO memperkirakan jumlah kasus masih akan terus meningkat karena virus sempat menyebar tanpa terdeteksi selama beberapa waktu. Saat ini, 51 kasus dikonfirmasi di Kongo dan dua kasus lainnya ditemukan di Uganda, satu pasien dilaporkan meninggal dunia.

WHO telah menetapkan wabah Ebola tersebut sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Meski demikian, organisasi itu menegaskan situasi saat ini belum mencapai tingkat pandemi global.

WHO menilai risiko penyebaran wabah tergolong tinggi di tingkat nasional dan regional, namun masih rendah secara global. Sebagian besar kasus ditemukan di Provinsi Ituri dan Kivu Utara di wilayah timur Kongo.

Situasi di lapangan juga semakin mengkhawatirkan karena sejumlah tenaga kesehatan dilaporkan meninggal akibat terinfeksi Ebola. Beberapa fasilitas kesehatan di wilayah terdampak disebut mulai kewalahan menangani lonjakan pasien.

Petugas medis mengaku masih kekurangan perlindungan memadai meski bantuan alat pelindung diri mulai berdatangan. Organisasi Médecins Sans Frontières (MSF) menyebut banyak rumah sakit kini penuh dengan pasien suspek Ebola.

Kasus pertama yang diketahui berasal dari seorang perawat di Bunia yang mengalami gejala dan meninggal pada 24 April. Jenazah pasien kemudian dipindahkan ke Mongwalu, wilayah yang kini menjadi salah satu pusat penyebaran wabah.

Ebola merupakan penyakit menular yang menyebar melalui cairan tubuh dan luka pada kulit. Virus ini dapat menyebabkan pendarahan parah dan kegagalan organ.

Varian Bundibugyo sendiri termasuk jenis Ebola langka yang terakhir kali muncul lebih dari satu dekade lalu. Wabah sebelumnya dari varian tersebut tercatat memiliki tingkat kematian sekitar sepertiga dari jumlah pasien yang terinfeksi.

Hingga kini belum ada vaksin maupun obat yang secara khusus disetujui untuk menangani Bundibugyo. Konflik berkepanjangan dan kondisi keamanan yang tidak stabil di wilayah timur Kongo juga dinilai semakin memperumit upaya pengendalian wabah Ebola.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....