WHO Tetapkan Ebola Darurat Global, Indonesia Diminta Perkuat Skrining

  • 19 Mei 2026 06:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • WHO menetapkan Ebola sebagai darurat kesehatan internasional karena risiko penyebaran lintas negara meningkat.
  • Peneliti Global Health Security, Dicky Budiman, menilai dunia semakin rentan menghadapi wabah akibat kerusakan ekosistem.
  • Indonesia diminta memperkuat skrining di bandara meski risiko penularan luas masih rendah.

‎RRI.CO.ID, Jakarta - Wabah Ebola kembali menjadi perhatian dunia setelah WHO menetapkan status darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Penetapan itu dilakukan karena meningkatnya risiko penyebaran lintas negara.

‎Peneliti Global Health Security, Dicky Budiman, menilai dunia kini semakin rentan menghadapi wabah penyakit. Kerusakan lingkungan disebut memperbesar ancaman munculnya virus berbahaya.

‎“Dunia ini tidak sehat dan ekosistem makin rusak,” ujar Dicky Budiman, dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Senin, 18 Mei 2026. Ia mengatakan virus dari hewan, kini mulai mencari inang baru pada manusia.

‎Menurut Dicky, Ebola sebenarnya bukan virus baru dalam dunia kesehatan global. Virus itu sudah ditemukan sejak dekade 1970-an di Afrika.

‎Namun, strain Ebola yang kini menyebar dinilai lebih mengkhawatirkan. Wabah terbaru justru muncul di kota dan pusat transportasi internasional.

‎“Dulu biasanya muncul di desa atau dekat hutan,” kata Dicky Budiman. Kini, kasus ditemukan di wilayah dengan mobilitas manusia sangat tinggi.

‎Ia menjelaskan kondisi itu membuat risiko penyebaran lintas negara semakin besar. Karena itu, WHO menetapkan status Public Health Emergency of International Concern atau PHEIC

‎Menurut Dicky, status PHEIC menunjukkan ancaman Ebola harus ditangani serius dunia internasional. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut belum masuk kategori pandemi global.

‎Dicky menyebut Indonesia tetap harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kasus impor. Pengawasan di bandara dan pintu masuk internasional dinilai sangat penting.

‎“Sistem skrining harus berjalan terus selama 24 jam,” ujar Dicky Budiman. Ia meminta pemerintah memastikan deteksi dini tetap optimal.

‎Meski begitu, Dicky menilai risiko penularan meluas di Indonesia masih rendah. Ebola dinilai berbeda dengan Covid-19 yang penularannya sangat cepat.

‎Ia juga mengingatkan masyarakat tidak memberi stigma terhadap warga Afrika. Menurutnya, wabah Ebola tidak berkaitan dengan ras atau kelompok tertentu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....