WHO Pertimbangkan Vaksin Eksperimental untuk Wabah Ebola
- 20 Mei 2026 14:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- WHO mempertimbangkan penggunaan vaksin dan obat eksperimental untuk menangani wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) setelah jumlah kasus meningkat menjadi sedikitnya 500 dugaan kasus dan 130 dugaan kematian.
- Wabah yang disebabkan strain Bundibugyo itu belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui.
- WHO membentuk kelompok teknis untuk mengevaluasi vaksin potensial serta telah mengerahkan lebih dari 40 ahli dan mengirim 12 ton perlengkapan medis ke wilayah terdampak guna memperkuat penanganan wabah.
RRI.CO.ID, Jenewa — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempertimbangkan penggunaan vaksin dan obat eksperimental untuk menangani wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC). Langkah tersebut diambil setelah jumlah kasus dan kematian akibat wabah terus meningkat beberapa hari terakhir.
Melansir dari The Guardian, Rabu, 20 Mei 2026, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengaku khawatir terhadap kecepatan penyebarannya. WHO mencatat sedikitnya 500 kasus dugaan Ebola dan 130 dugaan kematian sejak wabah diumumkan pekan lalu.
Sebagian besar kasus dilaporkan terjadi di Provinsi Ituri. Komite Penyelamatan Internasional (IRC) menilai jumlah kasus yang terdeteksi saat ini kemungkinan hanya “puncak gunung es”.
IRC memperingatkan penyebaran ke Sudan Selatan kemungkinan hanya tinggal menunggu waktu. Kondisi infrastruktur kesehatan di wilayah terdampak disebut sangat lemah.
Tenaga kesehatan dilaporkan kekurangan alat pelindung dasar seperti sarung tangan, masker, dan kacamata pelindung saat menangani pasien Ebola. WHO menyebut wabah saat ini disebabkan oleh strain Bundibugyo yang belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui.
Para ilmuwan dari DRC dan Uganda juga telah mempublikasikan genom virus secara daring untuk membantu penelitian lebih lanjut. Data genetik menunjukkan wabah kemungkinan bermula dari penularan virus dari hewan ke manusia sebelum kemudian menyebar antarmanusia.
WHO memperkirakan wabah ini membutuhkan waktu lama untuk dikendalikan. Warga juga diminta menghindari kontak fisik seperti berjabat tangan dan berpelukan guna mencegah penyebaran virus.
Meski WHO merekomendasikan pemeriksaan di wilayah perbatasan, badan tersebut meminta negara lain tidak memberlakukan pembatasan perjalanan dan perdagangan. Namun, sejumlah negara telah melarang pelancong dari wilayah terdampak, sementara Rwanda menutup perbatasannya dengan DRC.
WHO kini membentuk kelompok teknis untuk mengevaluasi kemungkinan penggunaan vaksin dan pengobatan eksperimental. Saat ini, vaksin yang tersedia hanya untuk strain Zaire Ebola dan dinilai belum dapat digunakan untuk wabah Bundibugyo.
WHO telah mengerahkan lebih dari 40 ahli ke lapangan. Organisasi tersebut juga mengirim 12 ton perlengkapan medis untuk membantu penanganan wabah di wilayah terdampak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....