DPR Filipina Kembali Makzulkan Wapres Sara Duterte
- 12 Mei 2026 16:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sara Duterte kembali dimakzulkan oleh DPR Filipina dengan dukungan 257 anggota parlemen, jauh melampaui ambang batas untuk membawa kasus ke Senat.
- Duterte menghadapi berbagai tuduhan, mulai dari pelanggaran konstitusi, penyalahgunaan dana rahasia pemerintah, dugaan suap, hingga transaksi perbankan lebih dari 110 juta dolar AS yang ditandai badan anti pencucian uang Filipina.
- Proses pemakzulan semakin rumit setelah sekutu Duterte, Alan Cayetano, terpilih sebagai Presiden Senat di tengah memanasnya konflik politik antara keluarga Duterte dan Ferdinand Marcos Jr..
RRI.CO.ID, Manila - Sara Duterte kembali dimakzulkan oleh DPR Filipina untuk kedua kalinya. Namun, proses persidangan pemakzulannya di Senat masih dipenuhi ketidakpastian setelah sekutunya berhasil mengambil alih kendali Senat Filipina.
Sebanyak 257 dari total 318 anggota DPR Filipina memberikan suara mendukung pemakzulan Duterte. Sementara itu, 26 anggota menolak dan sembilan lainnya memilih abstain, dikutip dari Al Jazeera, Selasa, 12 Mei 2026.
Jumlah dukungan tersebut jauh melampaui ambang batas sepertiga suara yang dibutuhkan agar kasus dapat dilanjutkan ke Senat. Pemakzulan ini menjadi babak terbaru dalam konflik politik antara keluarga Duterte dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr.
Ketegangan politik tersebut semakin memperburuk situasi politik dalam negeri Filipina di tengah ketidakpastian ekonomi akibat krisis energi global. Ketua Komite Yudisial DPR Filipina, Gerville Luistro, mengatakan isu tersebut bukan hanya berkaitan dengan hukum, tetapi juga konstitusi.
Duterte menghadapi berbagai tuduhan, termasuk pelanggaran konstitusi dan pengkhianatan terhadap kepercayaan publik. Ia juga dituduh menyalahgunakan dana rahasia pemerintah dan gagal melaporkan kekayaannya secara transparan.
Selain itu, Duterte dituduh menerima suap serta terkait ancaman terhadap Marcos dan keluarganya. Salah satu tuduhan paling serius berkaitan dengan transaksi perbankan pribadi senilai lebih dari 110 juta dolar AS (Rp1,9 triliun).
Transaksi tersebut ditandai oleh badan anti pencucian uang Filipina. DPR Filipina meminta Senat menyatakan Duterte bersalah atas seluruh pasal pemakzulan serta mencopotnya secara permanen dari jabatan publik.
Sebelumnya, Duterte juga pernah dimakzulkan pada 2025. Namun, Mahkamah Agung Filipina membatalkan pemakzulan tersebut karena persoalan teknis.
Meski DPR kembali meloloskan pemakzulan, pencopotan Duterte tetap membutuhkan dukungan dua pertiga anggota Senat. Situasi itu menjadi semakin rumit setelah Senator Alan Cayetano, yang dikenal sebagai sekutu keluarga Duterte, terpilih sebagai Presiden Senat baru.
Sara Duterte dan Marcos sebelumnya maju bersama dalam pemilu presiden Filipina 2022. Namun, hubungan politik keduanya kemudian memburuk dan berkembang menjadi konflik terbuka antara dua keluarga politik besar di Filipina.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....