Filipina Nyatakan Ada Bukti Kuat untuk Pemakzulan Wapres Sara Duterte
- 30 Apr 2026 16:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Komite DPR Filipina menyatakan terdapat “kemungkinan alasan kuat” untuk memakzulkan Wakil Presiden Sara Duterte atas dugaan penyalahgunaan dana negara, kekayaan tidak wajar, dan ancaman terhadap Presiden Marcos Jr.
- Kasus pemakzulan kini berlanjut ke pembahasan dan pemungutan suara di DPR Filipina, dengan tuduhan tambahan terkait penyalahgunaan dana intelijen dan dana saat Duterte menjabat menteri pendidikan.
- Duterte membantah seluruh tuduhan, sementara penyelidikan juga menyoroti pernyataannya pada 2024 yang dianggap sebagai ancaman keamanan nasional, yang memperkuat dorongan pemakzulan.
RRI.CO.ID, Manila — Komite kongres Filipina menyatakan ada “kemungkinan alasan kuat” untuk memakzulkan Wakil Presiden Sara Duterte setelah mendengar berbagai tuduhan. Tuduhan tersebut mencakup dugaan kekayaan yang tidak dapat dijelaskan, penyalahgunaan dana negara, serta ancaman terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr.
Keputusan bulat itu diambil oleh komite kehakiman Dewan Perwakilan Rakyat yang beranggotakan 53 anggota. Dengan keputusan ini, kasus pemakzulan naik ke tahap pembahasan di seluruh DPR Filipina yang memiliki lebih dari 300 anggota.
Pengaduan tersebut kemudian akan diputuskan melalui pemungutan suara di majelis rendah. Tuduhan juga mencakup dugaan penyalahgunaan dana intelijen yang berasal dari kantor wakil presiden.
Melansir dari AP News, Kamis, 30 April 2026, tuduhan lain yaitu penyalahgunaan dana saat Sara Duterte menjabat sebagai menteri pendidikan. Sara Duterte membantah semua tuduhan tersebut dan menolak memberikan penjelasan rinci.
Jika DPR menyetujui pemakzulan, kasus akan dilanjutkan ke Senat untuk disidangkan. Biro Investigasi Nasional menyebut pernyataan Duterte dalam sebuah konferensi pers daring pada tahun 2024 sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.
Dalam pernyataan tersebut, Duterte disebut mengancam akan membunuh Presiden Marcos, istrinya, dan ketua DPR jika dirinya dibunuh lebih dulu. Tuduhan ini semakin memperkuat dorongan pemakzulan terhadapnya.
Ketua komite kehakiman DPR mengecam ketidakhadiran Duterte dalam beberapa sidang pemakzulan serta upayanya meminta Mahkamah Agung menghentikan penyelidikan. Pengacaranya menilai proses tersebut tidak sesuai dengan konstitusi dan telah melampaui ruang lingkup pengaduan awal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....