Menlu Filipina: Krisis Timteng Berdampak Langsung di ASEAN

  • 07 Mei 2026 18:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua ASEAN 2026, Filipina menegaskan, krisis di Timur Tengah (Timteng) telah memberikan dampak langsung dan mendalam terhadap negara-negara ASEAN.
  • ASEAN yang masih mengimpor sekitar 66 persen kebutuhan minyak mentahnya menghadapi tekanan besar akibat gejolak tersebut.
  • Di bawah tema keketuaan Filipina “Navigating Our Future Together”, ASEAN disebut terus berupaya menjaga keseimbangan.

RRI.CO.ID, Cebu - Ketua ASEAN 2026, Filipina menegaskan, krisis di Timur Tengah (Timteng) telah memberikan dampak langsung dan mendalam terhadap negara-negara ASEAN. Khususnya, di sektor energi, perdagangan, dan ketahanan pangan.

“Krisis yang sedang berlangsung di Timteng beserta dampaknya yang luas, termasuk gangguan terhadap aliran energi, jalur perdagangan, rantai pasok pangan. Serta kesejahteraan warga negara kita,” kata Menlu Filipina Maria Theresa Lazaro saat memimpin Pertemuan Para Menlu ASEAN (AMM) di bawah keketuaan Filipina, Kamis, 7 Mei 2026, di Cebu.

Menurut Lazaro dampak dari konflik di Timteng menjadi pengingat bahwa perkembangan di luar kawasan dapat segera memengaruhi stabilitas ASEAN. “Krisis ini menyebabkan kenaikan signifikan pada biaya bahan bakar dan energi, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga input pertanian, pangan, dan kebutuhan pokok,” ucapnya.

Ia menjelaskan, ASEAN yang masih mengimpor sekitar 66 persen kebutuhan minyak mentahnya menghadapi tekanan besar akibat gejolak tersebut. Selain memicu inflasi di berbagai negara anggota, situasi ini juga mengganggu sejumlah sektor strategis, termasuk transportasi dan pariwisata.

“Krisis tersebut juga membahayakan jutaan warga ASEAN yang berada di Timteng. Kondisi tersebut mendorong negara-negara ASEAN untuk memperkuat koordinasi dalam melindungi warga negara masing-masing di kawasan konflik,” katanya.

Filipina sendiri, lanjut Lazaro, telah menetapkan status darurat energi nasional pada 24 Maret 2026 sebagai respons terhadap dampak konflik terhadap ketahanan energi domestik. Kebijakan itu berdampak pada penyesuaian penyelenggaraan agenda ASEAN tahun ini.

“Deklarasi ini mengharuskan adanya penyesuaian kembali terhadap komitmen penyelenggaraan ASEAN tahun ini. Termasuk pengalihan sebagian besar pertemuan ASEAN ke format virtual,” ujar Lazaro menekankan.

Ia menambahkan, sejumlah pertemuan penting tetap dilaksanakan secara tatap muka namun dengan skala yang lebih terbatas. Meski menghadapi tekanan situasi global, Lazaro menegaskan ASEAN tetap berkomitmen menjalankan agenda utama organisasi.

Di bawah tema keketuaan Filipina “Navigating Our Future Together”, ASEAN disebut terus berupaya menjaga keseimbangan. Yakni, antara respons terhadap krisis jangka pendek dan pencapaian visi jangka panjang ASEAN Community 2045.

“Kita menghadapi pertemuan ini dengan pemahaman bahwa menghadapi ketidakpastian. Membutuhkan kelincahan dalam merespons tantangan mendesak sekaligus komitmen yang teguh dalam mengejar tujuan jangka panjang,” ujar Menlu Filipina.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....