Pemimpin ASEAN Bahas Krisis Energi akibat Perang Timteng

  • 08 Mei 2026 15:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Para pemimpin ASEAN membahas krisis energi dan pasokan bahan bakar akibat perang Timur Tengah dalam KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina.
  • Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena banyak negara Asia Tenggara bergantung pada impor minyak dan gas dari kawasan Teluk.
  • Selain isu energi, ASEAN juga menyoroti sengketa regional termasuk situasi politik Myanmar yang masih menjadi isu sensitif pascakudeta 2021.

RRI.CO.ID, Cebu — Para pemimpin ASEAN bertemu di Filipina untuk membahas krisis energi dan pasokan bahan bakar. Pembicaraan tersebut dilakukan di tengah perang Timur Tengah yang terus memengaruhi ekonomi global.

Pertemuan berlangsung dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Kota Cebu, Jumat, 8 Mei 2026. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memimpin pertemuan tersebut karena Filipina saat ini menjabat sebagai ketua ASEAN, dilansir dari Anadolu.

Perang di Timur Tengah menjadi perhatian utama karena konflik tersebut mengganggu pelayaran global dan pasar minyak dunia. Ketegangan di Selat Hormuz juga menjadi fokus pembahasan para pemimpin ASEAN.

Jalur tersebut merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia. Sementara itu, banyak negara Asia Tenggara sangat bergantung pada impor minyak dan gas dari kawasan Teluk.

Selain membahas keamanan energi, ASEAN juga menyoroti stabilitas rantai pasok dan risiko inflasi di kawasan. Para pemimpin ASEAN turut membahas langkah-langkah untuk mencegah kekurangan bahan bakar dan menjaga pasokan komoditas penting tetap aman.

Pada Kamis sebelumnya, para diplomat dan pejabat ekonomi ASEAN telah membahas kemungkinan respons bersama terhadap dampak perang Timur Tengah. ASEAN mempertimbangkan langkah yang terkoordinasi dan praktis untuk menghadapi krisis tersebut.

Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Cristina Roque mengatakan tidak ada negara anggota yang mampu menghadapi tantangan tersebut sendirian. Ia menekankan pentingnya respons yang cepat, praktis, dan terkoordinasi di tingkat regional.

Filipina sendiri bulan lalu menjadi negara pertama yang menetapkan status darurat ekonomi akibat dampak perang Timur Tengah. Langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi krisis energi dan gangguan ekonomi yang semakin meluas.

Selain isu energi, ASEAN juga menghadapi berbagai sengketa regional yang dapat mengganggu persatuan blok. Salah satu isu paling sensitif adalah situasi politik di Myanmar.

Kepemimpinan militer Myanmar telah dilarang menghadiri KTT ASEAN sejak kudeta 2021. Myanmar baru-baru ini mengangkat Min Aung Hlaing sebagai presiden melalui pemilu yang menuai banyak kritik internasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....