Pakistan Siap Fasilitasi Putaran Kedua Perundingan AS-Iran

  • 07 Mei 2026 15:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pakistan diperkirakan menjadi tuan rumah putaran kedua perundingan AS–Iran pekan depan untuk membahas upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah, dengan sebagian besar isu disebut sudah mencapai kesepahaman kecuali program nuklir.
  • Perundingan masih menemui hambatan utama pada isu nuklir, meski kedua pihak juga membahas kemungkinan pembukaan Selat Hormuz, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran, dan pencairan aset Iran yang dibekukan.
  • Pakistan terus berupaya memediasi negosiasi setelah sebelumnya menjadi tuan rumah pertemuan awal dan gencatan senjata sementara, sementara AS dan Iran dilaporkan berada pada posisi paling dekat menuju kesepakatan sejak perang dimulai.

RRI.CO.ID, Islamabad — Pakistan diperkirakan akan menjadi tuan rumah putaran kedua perundingan antara Amerika Serikat dan Iran pekan depan. Hal tersebut dilakukan untuk membahas upaya mengakhiri konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber pemerintah Pakistan yang terlibat dalam proses mediasi antara kedua negara. Islamabad menyatakan optimisme bahwa pembicaraan dapat kembali dilanjutkan dalam waktu dekat guna mencapai penyelesaian diplomatik.

Menurut sumber Pakistan, sekitar 80 hingga 85 persen isu antara kedua pihak sebenarnya telah menemukan titik kesepahaman. Meski demikian, isu program nuklir Iran masih menjadi hambatan utama dalam negosiasi, dilansir dari Anadolu, Kamis, 7 Mei 2026.

Sebelumnya, Amerika Serikat menolak usulan Iran yang ingin menunda pembahasan nuklir dan memprioritaskan penghentian perang permanen terlebih dahulu. Washington tetap bersikeras agar isu nuklir dimasukkan dalam pembicaraan menuju kesepakatan jangka panjang.

Sementara itu, Iran diperkirakan akan memberikan respons resmi terhadap proposal terbaru AS pada akhir pekan ini. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan Tehran saat ini masih meninjau proposal yang diajukan Washington.

Di tengah proses tersebut, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian sementara operasi “Project Freedom”. Trump menyebut keputusan tersebut diambil atas permintaan Pakistan dan sejumlah negara lain.

Langkah tersebut dinilai membuka peluang baru bagi kemajuan diplomasi antara Washington dan Tehran. Pakistan sebelumnya juga berperan dalam memediasi gencatan senjata selama dua minggu pada April lalu yang kemudian diperpanjang oleh Trump.

Negara tersebut juga menjadi tuan rumah putaran pertama perundingan AS dan Iran pada April, meski belum menghasilkan kesepakatan final. Sumber Pakistan menilai peluang tercapainya kesepakatan awal tetap terbuka, terutama menjelang kunjungan Trump ke Tiongkok.

Mereka menyebut Trump ingin mencapai perkembangan diplomatik sebelum lawatan tersebut berlangsung. Dalam pembahasan terbaru, kedua pihak disebut telah membicarakan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran.

Selain itu, juga dibahas pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan. Namun, isu nuklir masih menjadi perbedaan utama yang belum terselesaikan.

Pakistan kini terus berupaya mencari titik tengah terkait program nuklir Iran agar negosiasi dapat berlanjut. Media AS Axios bahkan melaporkan Washington dan Tehran saat ini berada pada posisi paling dekat menuju kesepakatan sejak perang dimulai.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....