Iran Ajukan Proposal Baru Melalui Pakistan, AS Tak Puas
- 02 Mei 2026 11:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Iran mengajukan proposal perdamaian baru kepada Amerika Serikat melalui Pakistan, namun Donald Trump menilai tawaran tersebut belum memenuhi tuntutan Washington.
- Negosiasi masih berlangsung tetapi buntu, dengan AS tetap membuka opsi militer sementara Pakistan berperan sebagai mediator yang optimistis kesepakatan masih bisa dicapai.
- Isu utama yang menghambat perdamaian adalah program nuklir Iran, di tengah perdebatan internal Iran antara jalur diplomasi dan tekanan melalui blokade Selat Hormuz.
RRI.CO.ID, Teheran - Iran mengajukan proposal perdamaian baru kepada Amerika Serikat melalui mediator Pakistan di tengah upaya mengakhiri konflik yang masih berlangsung. Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak puas terhadap tawaran tersebut karena dinilai belum memenuhi tuntutan Washington.
Melansir dari The Guardian, Sabtu, 2 April 2026, ia menegaskan bahwa negosiasi masih berjalan tetapi belum menunjukkan hasil. Ia juga menyebut pilihannya hanya dua, yakni melanjutkan serangan atau mencapai kesepakatan.
Trump juga mengkritik isi proposal Iran yang dianggap meminta hal-hal yang tidak dapat disetujui. Ia juga mengabaikan tenggat dalam Undang-Undang Kewenangan Perang yang mengharuskan persetujuan Kongres untuk melanjutkan konflik lebih dari 60 hari.
Trump beralasan bahwa gencatan senjata yang sedang berlangsung telah menghentikan hitungan tersebut. Meski demikian, pandangan ini ditentang oleh banyak ahli hukum.
Sementara itu, Iran melalui media pemerintah melaporkan bahwa proposal telah diserahkan kepada Pakistan untuk diteruskan kepada pihak AS. Pakistan memainkan peran penting sebagai mediator, sebelumnya mendorong diplomasi jalur belakang dan fokus pada penyampaian pesan antara kedua negara.
Pemerintah di Islamabad meyakini peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka, meskipun posisi Iran dan AS semakin mengeras. Konflik ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Di Iran, muncul perdebatan antara melanjutkan jalur diplomasi atau meningkatkan tekanan melalui blokade Selat Hormuz sebagai alat tawar. Iran disebut berharap konflik dapat diselesaikan sebelum pertemuan Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada pertengahan Mei.
Gencatan senjata yang telah berlangsung lebih dari tiga minggu dinilai sebagai pencapaian penting. Meski demikian, perundingan sebelumnya di Islamabad pada April gagal menghasilkan kesepakatan final.
Upaya untuk melanjutkan perundingan pun belum berhasil, sementara pejabat AS mulai mempertimbangkan kemungkinan kembali ke jalur militer. Hingga kini, salah satu isu utama yang masih menjadi hambatan adalah program nuklir Iran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....