Menlu AS Umumkan Operasi ‘Epic Fury’ di Iran Telah Berakhir
- 06 Mei 2026 15:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Operasi Epic Fury telah berakhir dan digantikan oleh Project Freedom yang berfokus pada pengawalan kapal di Selat Hormuz.
- Pengumuman ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran berlaku sejak April dan perang dianggap telah berakhir, meski ketegangan masih berlanjut.
- AS dan Iran saling tuding pelanggaran gencatan senjata di tengah operasi pengamanan jalur pelayaran, dengan ribuan kapal dan pelaut masih terdampak situasi di Teluk Arab.
RRI.CO.ID, Washington — Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Operasi Epic Fury telah berakhir. Ia menambahkan AS kini memasuki fase baru, yakni Project Freedom yang berfokus pada pengawalan kapal di Selat Hormuz.
Rubio menjelaskan tahap operasi militer sebelumnya telah selesai dan tidak lagi menjadi bagian dari agenda utama AS di kawasan tersebut. Operasi Epic Fury merupakan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump memberi tahu Kongres bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berlaku sejak April. Ia juga menyebut bahwa perang antara kedua pihak dianggap telah berakhir, dilansir dari The Hill, Rabu, 6 Mei 2026.
“Operasinya sudah selesai. Epic Fury, seperti yang telah diberitahukan presiden kepada Kongres, tahap itu sudah berakhir. Sekarang kita beralih ke Project Freedom,” kata Rubio kepada wartawan di ruang konferensi Gedung Putih.
Pemberitahuan tersebut juga dilakukan sesuai dengan War Powers Act yang mengatur batas waktu operasi militer. Meski demikian, ketegangan di kawasan tetap berlanjut dengan sejumlah insiden militer antara kedua pihak.
Iran menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata. Sementara itu, pihak AS tetap melanjutkan operasi Project Freedom untuk mengawal jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Operasi ini bertujuan memastikan keamanan kapal dagang di wilayah tersebut yang masih terdampak ketegangan. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menilai operasi baru AS dan blokade yang masih berlangsung merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Di sisi lain, AS menyatakan bahwa situasi di lapangan masih memerlukan pengamanan ketat. Data militer AS menyebut sekitar 1.550 kapal dagang dan lebih dari 22.500 pelaut masih terjebak di wilayah Teluk Arab.
AS akan terus menekan Iran dan tetap berupaya menjaga stabilitas pelayaran di kawasan Selat Hormuz. Namun, Rubio menegaskan bahwa langkah tersebut tidak akan sepenuhnya menyelesaikan seluruh persoalan yang terjadi di wilayah tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....