Trump Luncurkan 'Project Freedom', Pengamat Khawatir Eskalasi di Hormuz
- 04 Mei 2026 22:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- AS meluncurkan operasi militer “Project Freedom” untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
- Pemerintah AS menyebut misi ini sebagai langkah kemanusiaan untuk menjaga stabilitas ekonomi global.
- Pengamat menilai langkah ini berisiko memicu eskalasi konflik dengan Iran.
RRI.CO.ID, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi meluncurkan operasi militer bernama Project Freedom untuk mengamankan wilayah perairan Selat Hormuz. Langkah strategis ini bertujuan memandu kapal-kapal dagang negara netral yang terjebak akibat konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Trump menegaskan bahwa misi utama operasi tersebut adalah bentuk tindakan kemanusiaan demi menjaga stabilitas ekonomi global saat ini. Pihak Gedung Putih memberikan peringatan sangat keras kepada siapapun yang berani menghalangi jalannya proses pengawalan kapal-kapal tersebut.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Mohammad Ayub Mirdad, menilai kebijakan tersebut memiliki risiko besar memperburuk situasi keamanan di sana. Menurutnya, Iran telah bersiap sejak lama dengan memasang ranjau laut untuk menghalangi kapal yang melintas tanpa izin resmi.
"Jadi Project Freedom ini bisa jadi pemicu eskalasi baru atau justru buka pintu masuk negosiasi kalau Iran memilih kooperatif. Kita tunggu saja kedepannya terkait tanggapan Iran seperti apa Project Freedom dari Amerika Serikat," kata Ayub Mirdad dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Rabu, 29 April 2026
Ayub menjelaskan bahwa Iran kemungkinan tidak akan melakukan konfrontasi secara terbuka melainkan melalui serangan asimetris di area abu-abu. Narasi yang dibangun oleh Iran saat ini adalah menunjukkan kekuatan militer mereka demi memberikan pesan tanpa memicu perang.
Motif di balik Project Freedom ini dianggap sebagai kombinasi antara kepentingan keamanan energi global dan juga kepentingan politik domestik. Trump ingin menunjukkan kepemimpinan yang kuat kepada publik Amerika Serikat di tengah tekanan besar dari pihak Kongres saat ini.
Di sisi lain, pengamat Kebijakan Energi, Sofyano Zakaria, menyatakan keraguannya terhadap efektivitas operasi tersebut karena skenario pengawalan belum dipahami jelas. Ketidakpastian sikap pemimpin Amerika Serikat tersebut dinilai sangat menyulitkan para pelaku industri energi dalam menentukan langkah bisnis strategis.
"Padahal sektor energi membutuhkan kepastian. Karena adanya spekulasi harga minyak yang berpengaruh akibat terjadinya perang,” kata dia
Ketidakpastian tersebut diperparah dengan hilangnya kepercayaan Trump terhadap peran Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menyelesaikan sengketa wilayah laut internasional. Sofyano berpendapat bahwa solusi terbaik adalah kesepakatan bersama yang menetapkan Selat Hormuz sebagai jalur bebas bagi semua negara dunia.
Sofyano juga meragukan keberhasilan upaya damai dari Uni Eropa jika Amerika Serikat tetap menjalankan kebijakan sepihak tanpa koordinasi matang. Jika Amerika Serikat bersedia menarik mundur armadanya, beliau yakin Iran akan kembali bersikap normal sehingga jalur distribusi minyak membaik. (Sarah Maulida Ali)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....