AS Luncurkan Operasi “Project Freedom” di Selat Hormuz, Kawal Kapal Dagang
- 05 Mei 2026 13:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Amerika Serikat meluncurkan operasi “Project Freedom” untuk mengawal kapal dagang di Selat Hormuz, dengan dukungan militer besar namun detail pelaksanaannya masih belum jelas.
- Ketegangan antara AS dan Iran meningkat, ditandai saling klaim dan ancaman, meski ada laporan kapal dagang berhasil melintas dengan perlindungan AS.
- Analis dan pelaku industri meragukan efektivitas operasi ini karena keterbatasan aset, perlunya kerja sama kedua pihak, serta kondisi Selat Hormuz yang sempit dan berisiko tinggi.
RRI.CO.ID, Washington — Amerika Serikat meluncurkan rencana untuk mengawal kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz melalui operasi yang dinamakan “Project Freedom”. Rencana ini diumumkan oleh Presiden Donald Trump hanya beberapa jam sebelum mulai diterapkan, dilansir dari CNN, Selasa, 5 Mei 2026.
Rencana tersebut melibatkan kapal perusak berpemandu rudal, lebih dari 100 pesawat, serta berbagai platform nirawak multi-domain. Meski demikian, detail pelaksanaan operasi tersebut masih belum jelas.
Di tengah pelaksanaannya, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran justru meningkat, kedua pihak saling melontarkan tuduhan dan klaim serangan. Iran menyatakan telah mencegah kapal AS memasuki selat, sementara pihak AS membantah klaim tersebut.
Amerika Serikat kemudian menyebut dua kapal dagang berhasil melintasi Selat Hormuz, meskipun hal ini juga dibantah oleh Iran. Namun, perusahaan pelayaran Maersk mengonfirmasi bahwa salah satu kapalnya berhasil melintasi jalur tersebut dengan perlindungan militer AS.
Para analis menilai AS kemungkinan akan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan untuk memberikan rasa aman bagi kapal-kapal komersial. Operasi ini diperkirakan lebih berfokus pada menciptakan persepsi keamanan dibandingkan pengawalan langsung terhadap setiap kapal.
Di sisi lain, militer AS mengklaim telah menghancurkan enam kapal kecil milik Iran, meskipun klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran. Trump juga mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap upaya Iran untuk menyerang kapal AS akan dibalas dengan kekuatan besar.
Sebaliknya, Iran juga memperingatkan akan menyerang setiap kekuatan asing yang memasuki wilayah tersebut. Sejumlah eksekutif pelayaran menyatakan keraguan terhadap efektivitas rencana ini.
Mereka menilai bahwa pembukaan jalur pelayaran membutuhkan kerja sama kedua pihak. Selain itu, para ahli menilai Amerika Serikat kemungkinan kekurangan aset untuk menjalankan operasi pengawalan konvoi secara penuh.
Kondisi geografis Selat Hormuz yang sempit turut menambah kompleksitas operasi ini. Jalur pelayaran yang terbatas membuat manuver militer dan pengawalan menjadi lebih sulit serta berisiko tinggi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....