OCHA: Gaza Krisis Prostetik Parah, Ribuan Amputasi Tak Tertangani

  • 05 Mei 2026 15:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • OCHA memperingatkan krisis layanan prostetik di Gaza, dengan lebih dari 6.600 kasus amputasi dan hanya delapan teknisi yang tersedia, termasuk banyak korban anak-anak sejak Oktober 2023.
  • OCHA menilai dibutuhkan waktu lima tahun atau lebih untuk memenuhi kebutuhan, serta menyerukan tenaga ahli internasional dan pembukaan akses bahan prostetik yang masih dibatasi.
  • PBB melalui Tom Fletcher menyebut bantuan kemanusiaan telah membantu ribuan warga, namun tantangan besar masih terjadi termasuk keterbatasan akses, perlindungan sipil, dan masalah kesehatan di pengungsian.

RRI.CO.ID, Gaza — Pekerja kemanusiaan memperingatkan krisis serius terkait minimnya layanan prostetik dan rehabilitasi bagi korban amputasi di Gaza. Peringatan tersebut disampaikan oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).

Melansir dari Xinhua, Selasa, 5 Mei 2026, OCHA mencatat kondisi layanan kesehatan di wilayah tersebut semakin terbatas. OCHA melaporkan bahwa lebih dari 6.600 orang mengalami amputasi, dengan sekitar satu dari lima korban merupakan anak-anak.

Ribuan kasus baru juga tercatat sejak Oktober 2023, sementara hanya delapan teknisi prostetik yang tersedia untuk menangani kebutuhan tersebut. Keterbatasan tenaga ahli dan bahan prostetik membuat situasi semakin memburuk.

OCHA memperkirakan bahwa dengan kondisi saat ini, dibutuhkan waktu lima tahun atau lebih untuk memenuhi kebutuhan. Perkiraan tersebut berlaku dengan asumsi tidak ada tambahan kasus amputasi baru.

OCHA juga menyerukan perlunya teknisi prostetik internasional serta perluasan kapasitas bengkel. Selain itu, OCHA menekankan pembukaan akses masuk bahan prostetik tanpa hambatan yang saat ini masih dibatasi oleh otoritas terkait.

Sementara itu, Koordinator Bantuan Darurat PBB Tom Fletcher menyampaikan bahwa upaya kemanusiaan di Gaza masih terus berlangsung. Ia menambahkan bahwa bantuan tersebut telah membantu menyelamatkan nyawa serta mencegah kelaparan.

Ia menjelaskan, bantuan disalurkan kepada sekitar 4.500 rumah tangga, termasuk tenda, bahan penutup, tempat tidur, dan perlengkapan darurat lainnya. Beberapa tempat penampungan di Khan Younis juga dibangun dari bahan seadanya seperti lembaran plastik untuk memberikan perlindungan sementara bagi pengungsi.

Namun demikian, Fletcher menegaskan masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Tantangan tersebut mencakup perlunya akses bantuan yang lebih luas.

Selain itu, diperlukan perlindungan warga sipil serta kerja sama kemanusiaan yang berkelanjutan. Ia juga menyoroti laporan adanya masalah kesehatan seperti penyakit kulit yang dipicu oleh hama dan tikus di sejumlah wilayah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....