WHO: Lebih dari 1.800 Fasilitas Kesehatan di Gaza Hancur
- 27 Apr 2026 18:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan di Gaza mengalami kerusakan, baik sebagian maupun hancur total akibat konflik.
- Di sisi lain sebagian besar keluarga Palestina di Gaza masih hidup dalam kondisi pengungsian di tengah reruntuhan akibat konflik.
- WHO melaporkan lebih dari 17.000 kasus infeksi terkait tikus terjadi di kalangan pengungsi sepanjang tahun ini.
RRI.CO.ID, Jenewa - Kondisi kemanusiaan di Gaza masih berada dalam situasi yang sangat berbahaya dan menghambat upaya pemulihan warga di wilayah tersebut. Badan kesehatan PBB memperingatkan ancaman amunisi yang belum meledak masih menjadi risiko serius di lapangan.
Para ahli penjinakan ranjau menyebut tingkat kontaminasi bahan peledak belum sepenuhnya terpetakan. Mereka menilai upaya pembersihan sejauh ini baru menyentuh sebagian kecil dari ancaman yang ada.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan di Gaza mengalami kerusakan, baik sebagian maupun hancur total akibat konflik. “Fasilitas tersebut mencakup rumah sakit besar seperti Al Shifa di Kota Gaza hingga pusat layanan kesehatan primer yang lebih kecil, klinik, apotek, dan laboratorium,” kata Perwakilan WHO untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, Reinhilde Van de Weerdt.
Berbicara dari Yerusalem, Van de Weerdt mengungkapkan pengalamannya saat pertama kali mengunjungi Gaza setelah menjabat sebagai perwakilan WHO di wilayah tersebut. “Saya baru saja menghabiskan minggu pertama saya di Gaza awal bulan ini. Tidak ada yang dapat mempersiapkan Anda untuk skala kehancuran tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun laporan dan data dapat menggambarkan situasi, pengalaman langsung di lapangan menunjukkan tingkat kerusakan yang jauh lebih parah. “Berdiri di tengah tumpukan puing setinggi bermeter-meter yang tak berujung adalah sesuatu yang sama sekali berbeda,” katanya.
WHO menegaskan bahwa kondisi ini membutuhkan perhatian dan dukungan internasional yang mendesak. Yaitu, untuk memastikan layanan kesehatan dapat kembali berjalan dan membantu pemulihan warga Gaza.
Di sisi lain sebagian besar keluarga Palestina di Gaza masih hidup dalam kondisi pengungsian di tengah reruntuhan akibat konflik. Mereka bertahan di tenda-tenda dan sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Selain ancaman keamanan, kondisi kesehatan masyarakat juga memburuk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 17.000 kasus infeksi terkait tikus terjadi di kalangan pengungsi sepanjang tahun ini.
Lebih dari 80 persen lokasi pengungsian juga melaporkan kasus infeksi kulit, seperti kudis, kutu, dan kutu kasur. Kondisi ini disebut sebagai konsekuensi dari lingkungan hidup yang tidak layak akibat kehancuran infrastruktur.
Reinhilde Van de Weerdt, menekankan pentingnya akses terhadap peralatan medis untuk memahami penyebaran penyakit di Gaza. “Kami membutuhkan peralatan dan perlengkapan laboratorium untuk masuk ke Gaza, tanpa itu kami seperti bekerja dalam kondisi buta,” katanya.
Menurutnya, pembatasan terhadap masuknya obat-obatan dan perlengkapan medis semakin memperburuk situasi kesehatan di wilayah tersebut. Untuk itu, WHO mendesak adanya perubahan segera, termasuk perlindungan terhadap tenaga kesehatan serta pembukaan akses bagi distribusi obat-obatan dan perlengkapan penting.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....