Kerusakan Hancur Total, WHO: Rehabilitasi Sistem Kesehatan Gaza Butuh Rp172 T
- 26 Apr 2026 06:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- WHO mengumumkan bahwa pembangunan kembali dan rehabilitasi sistem kesehatan di Gaza membutuhkan investasi sangat besar.
- Diperkirakan, kebutuhan biaya tersebut sekitar 10 miliar dolar AS atau setara Rp172 triliun dalam lima tahun ke depan.
RRI.CO.ID, Jenewa - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa pembangunan kembali dan rehabilitasi sistem kesehatan di Gaza membutuhkan investasi sangat besar. Diperkirakan, kebutuhan biaya tersebut sekitar 10 miliar dolar AS atau setara Rp172 triliun dalam lima tahun ke depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki, Reinhilde Van de Weerdt, dalam konferensi pers di Jenewa yang disiarkan dari Yerusalem. Ia menyebut, kerusakan sektor kesehatan saja ditaksir mencapai 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp24 triliun.
Ia mengungkapkan lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan sebagian hingga hancur total. Mulai dari rumah sakit besar hingga pusat layanan kesehatan primer, klinik, apotek, dan laboratorium.
Menurutnya, kehancuran bangunan dan tumpukan sampah memperparah situasi kesehatan masyarakat. “Bangunan yang hancur dan tumpukan sampah menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi tikus dan hama," katanya dikutip Minggu 26 April 2026.
"Sekitar 80 persen dari 1.600 lokasi pengungsian melaporkan kemunculan tikus dan hama. Lebih dari 80 persen lokasi tersebut melaporkan infeksi kulit seperti rabies, kutu, dan kutu kasur,” ujarnya menambahkan.
Meski demikian, upaya pemulihan tetap berjalan. WHO telah menambah 128 tempat tidur di Rumah Sakit Al-Shifa guna meningkatkan kapasitas layanan kesehatan darurat.
WHO menegaskan pentingnya perlindungan bagi tenaga kesehatan serta akses tanpa hambatan bagi pasokan medis ke Gaza. Menurut Van de Weerdt, penghapusan hambatan birokrasi dan pembatasan akses menjadi kunci agar upaya penyelamatan nyawa dapat berjalan efektif.
Terkait evakuasi medis, ia menjelaskan proses tersebut sangat kompleks dari sisi keamanan dan logistik. Namun, hak pasien untuk mendapatkan perawatan tetap menjadi prioritas.
Pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan dapat dirujuk ke rumah sakit di Yerusalem Timur atau Tepi Barat. Proses evakuasi dilakukan melalui perbatasan Rafah menuju Mesir, kemudian ke negara lain, termasuk Yordania.
Evakuasi medis terakhir dilakukan pada 23 April melalui Rafah, dengan total 47 pasien dan 86 pendamping berhasil keluar untuk mendapatkan perawatan lanjutan. WHO menegaskan keberlanjutan akses medis dan perlindungan fasilitas kesehatan menjadi faktor krusial dalam pemulihan sistem kesehatan Gaza ke depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....