PBB Peringatkan Dampak Global Parah jika Selat Hormuz Tetap Ditutup
- 01 Mei 2026 18:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dapat memicu lonjakan inflasi global, perlambatan ekonomi, dan risiko resesi dunia.
- Dalam berbagai skenario, PBB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global dapat turun hingga 2–3,1 persen, sementara inflasi meningkat dan puluhan juta orang berisiko jatuh ke kemiskinan serta kelaparan.
- Guterres menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz, menjamin keamanan pelayaran, serta mendesak semua pihak mengedepankan dialog untuk mencegah krisis global semakin parah.
RRI.CO.ID, Jenewa — Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan dampak serius penutupan Selat Hormuz berkepanjangan terhadap ekonomi global dan stabilitas dunia. Dalam konferensi pers, ia memaparkan tiga skenario yang menggambarkan potensi konsekuensi dari gangguan jalur vital tersebut.
Dalam skenario terburuk, jika Selat Hormuz tetap ditutup hingga akhir tahun, inflasi global diperkirakan melonjak melampaui 6 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi anjlok ke level 2 persen, dilansir dari Xinhua, Jumat 1 Mei 2026.
Guterres menegaskan bahwa dampak sosial akan sangat besar, terutama bagi kelompok paling rentan. Ia juga memperingatkan peningkatan risiko resesi global yang dapat mengganggu stabilitas politik dan sosial.
Ia menjelaskan bahwa dampak dari krisis ini bersifat eksponensial. Semakin lama penutupan berlangsung, semakin besar kerugian yang ditimbulkan dan semakin sulit proses pemulihan.
Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, di mana pembatasan segera dicabut, pemulihan rantai pasok global diperkirakan memerlukan waktu berbulan-bulan. Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi global diprediksi tetap turun menjadi 3,1 persen, sementara inflasi meningkat menjadi 4,4 persen.
Selain itu, perdagangan global juga akan melemah dengan gangguan signifikan pada rantai pasok. Pada skenario kedua, jika gangguan berlangsung hingga pertengahan tahun, pertumbuhan ekonomi global dapat turun ke 2,5 persen.
Inflasi juga diperkirakan naik menjadi 5,4 persen. Guterres juga memperingatkan bahwa sekitar 32 juta orang berisiko jatuh ke dalam kemiskinan, sementara 45 juta lainnya menghadapi kelaparan ekstrem.
Seiring krisis Timur Tengah memasuki bulan ketiga, dampaknya terus memburuk dari waktu ke waktu meskipun terdapat gencatan senjata yang rapuh. Oleh karena itu, Guterres mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz serta pemulihan hak navigasi internasional.
Ia juga menekankan pentingnya menjamin keamanan, stabilitas, dan kepastian dalam aktivitas pelayaran. Selain itu, Guterres menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog serta solusi damai guna mencegah krisis semakin dalam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....