UNESCO Serukan Perlindungan Jurnalis di Tengah Penurunan Kebebasan Pers Global
- 03 Mei 2026 19:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- UNESCO mendesak pemerintah dan masyarakat sipil di seluruh dunia untuk memperkuat dukungan terhadap jurnalisme independen di tengah tren penurunan kebebasan pers secara global.
- Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany menegaskan pentingnya investasi pada jurnalisme sebagai pilar perdamaian.
RRI.CO.ID, Jakarta - UNESCO mendesak pemerintah dan masyarakat sipil di seluruh dunia untuk memperkuat dukungan terhadap jurnalisme independen. Serta menjamin arus informasi yang bebas dan akurat di tengah tren penurunan kebebasan pers secara global.
Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany menegaskan pentingnya investasi pada jurnalisme sebagai pilar perdamaian. Ia menyebut informasi yang bebas dan akurat menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat.
“Negara anggota dan seluruh mitra kami perlu berinvestasi dalam jurnalisme sebagai pilar perdamaian. Informasi yang bebas dan akurat sangat penting bagi publik,” ujar Khaled dalam siaran pers Kantor Regional UNESCO Jakarta, Minggu 3 Mei 2026.
UNESCO menekankan bahwa kebijakan perdamaian, pemulihan, dan keamanan harus mencakup perlindungan integritas informasi serta keberadaan media yang bebas dan independen. Upaya tersebut dinilai setara pentingnya dengan aspek kemanusiaan, kelembagaan, dan ekonomi.
Organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa itu juga menyoroti pentingnya pembiayaan berkelanjutan agar ruang redaksi mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi. Menurut UNESCO, banyak ruang redaksi di seluruh dunia menghadapi ancaman eksistensial, terutama akibat disinformasi yang menyebar cepat melalui media sosial dan kecerdasan artifisial.
Dalam kondisi tersebut, jurnalisme dinilai sebagai garis pertahanan terakhir masyarakat dari manipulasi informasi dan polarisasi. Laporan terbaru UNESCO menunjukkan kebebasan berekspresi global menurun 10 persen sejak 2012.
Penurunan tersebut disebut sebagai salah satu yang paling signifikan sejak periode krisis besar dunia. Seperti Perang Dunia I, menjelang Perang Dunia II, dan masa Perang Dingin.
Analisis berbasis data Varieties of Democracy (V-Dem) mengungkap praktik sensor diri di kalangan jurnalis meningkat 69 persen antara 2012 hingga akhir 2025. Tekanan hukum, termasuk gugatan pencemaran nama baik dan regulasi yang membatasi kerja jurnalistik, disebut menjadi faktor utama meningkatnya sensor diri tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....