PBB: Perang Iran Picu 30 Juta Orang Mengalami Kemiskinan Global

  • 30 Apr 2026 16:12 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PBB memperingatkan dampak ekonomi perang di Iran dapat mendorong lebih dari 30 juta orang kembali ke kemiskinan akibat guncangan ekonomi global yang meluas.
  • Gangguan di Selat Hormuz menjadi pemicu utama krisis, karena jalur tersebut merupakan rute vital pasokan energi dan pupuk dunia yang memengaruhi produksi pertanian global.
  • Krisis berpotensi memperburuk ketahanan pangan global, dengan negara berkembang seperti India, Bangladesh, Somalia, dan Mesir diperkirakan paling rentan terdampak.

RRI.CO.ID, New York — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa perang di Iran berpotensi mendorong lebih dari 30 juta orang kembali ke dalam kemiskinan. Hal tersebut diakibatkan dampak ekonomi global yang meluas, dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 30 April 2026.

Konflik ini dinilai semakin memperburuk kerawanan pangan dan stabilitas ekonomi dunia dalam beberapa bulan ke depan. Kepala Program Pembangunan PBB (UNDP) Alexander De Croo mengatakan bahwa dampak perang sudah mulai terasa.

Ia menambahkan bahwa dampak tersebut akan terus berlanjut meskipun konflik berhenti dalam waktu dekat. Ia menegaskan bahwa gangguan di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memicu krisis global.

Hal tersebut terutama karena jalur tersebut merupakan rute penting bagi pasokan energi dan pupuk dunia. Menurut PBB, gangguan pengiriman bahan bakar dan pupuk telah menurunkan produktivitas pertanian di berbagai negara.

Kondisi ini diperkirakan akan berdampak langsung pada hasil panen global pada akhir tahun, sehingga memperburuk ancaman krisis pangan. Selain itu, Timur Tengah disebut sebagai pusat produksi pupuk dunia, dengan sekitar sepertiga pasokan global melewati Selat Hormuz.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) bahkan memperingatkan bahwa krisis berkepanjangan di wilayah tersebut dapat memicu bencana pangan global. Sejumlah negara berkembang menjadi yang paling rentan terhadap dampak ini.

Negara-negara tersebut termasuk India, Bangladesh, Sri Lanka, Somalia, Sudan, Tanzania, Kenya, dan Mesir. FAO menilai kerawanan pangan akan mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa bulan ke depan dan sulit untuk dikendalikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....