PBB: Lebih dari 1,2 Juta Warga Lebanon Terancam Kelaparan Akut

  • 30 Apr 2026 19:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Laporan PBB menyebut lebih dari 1,2 juta orang di Lebanon diperkirakan menghadapi kelaparan akut akibat konflik, pengungsian, dan tekanan ekonomi di tengah perang Israel–Hizbullah.
  • Kondisi ketahanan pangan memburuk signifikan, dengan 1,24 juta orang diperkirakan mengalami kerawanan pangan tingkat krisis antara April hingga Agustus, naik dari 874.000 orang sebelum Maret.
  • Gencatan senjata belum sepenuhnya menghentikan pertempuran, sementara PBB dan FAO menekankan perlunya bantuan kemanusiaan dan dukungan pertanian untuk mencegah krisis semakin parah.

RRI.CO.ID, Beirut — Sebuah laporan yang didukung PBB memperingatkan bahwa lebih dari 1,2 juta orang di Lebanon akan menghadapi kelaparan akut tahun ini. Laporan tersebut disusun oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Program Pangan Dunia (WFP), serta Kementerian Pertanian Lebanon.

Laporan tersebut menyebut bahwa 1,24 juta orang akan menghadapi kerawanan pangan pada tingkat krisis atau lebih buruk. Kerawanan pangan tersebut diperkirakan akan terjadi antara April hingga Agustus, dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 30 April 2026.

Kondisi ini dipicu oleh konflik, pengungsian, dan tekanan ekonomi yang terjadi di tengah perang antara Israel dan Hizbullah. Laporan yang disusun oleh Integrated Food Security Phase Classification (IPC), menunjukkan adanya penurunan signifikan kondisi ketahanan pangan di Lebanon.

Sebelum Maret, sekitar 874.000 orang atau sekitar 17 persen populasi telah mengalami kerawanan pangan akut. Namun, eskalasi kekerasan telah membalikkan kemajuan yang sebelumnya dicapai.

Akibat situasi tersebut, banyak keluarga kini kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dasar, sementara kenaikan harga makanan semakin memperburuk kondisi. Direktur WFP di Lebanon menyatakan bahwa keluarga yang sebelumnya masih dapat bertahan kini kembali terdorong ke dalam krisis.

Hal tersebut disebabkan oleh konflik, pengungsian, dan meningkatnya biaya hidup yang terjadi secara bersamaan. FAO juga menyoroti bahwa guncangan berlapis telah merusak mata pencaharian di sektor pertanian dan berdampak langsung pada ketahanan pangan.

Lembaga tersebut menekankan perlunya bantuan pertanian darurat untuk mendukung petani dan mencegah kondisi semakin memburuk. Sementara itu, gencatan senjata yang mulai berlaku pada 17 April telah mengurangi intensitas pertempuran antara Israel dan Hizbullah.

Namun, pertempuran masih terus terjadi meskipun ada kesepakatan gencatan senjata. Pasukan Israel masih beroperasi di wilayah Lebanon selatan dan warga di perbatasan diminta tidak kembali ke rumah mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....