Harga Minyak Melonjak setelah Trump Umumkan Blokade Berbulan-bulan

  • 30 Apr 2026 14:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Donald Trump memperingatkan blokade Iran bisa berlangsung berbulan-bulan, memicu lonjakan harga minyak Brent hingga level tertinggi sejak 2022.
  • Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengganggu pasokan global hingga 20 juta barel per hari, sementara upaya diplomasi AS-Iran masih mengalami kebuntuan.
  • Lonjakan harga energi meningkatkan risiko stagflasi dan resesi global, dengan Oxford Economics dan Paul Krugman memperingatkan dampak ekonomi serius jika krisis berlanjut.

RRI.CO.ID, Washington — Harga minyak dunia melonjak tajam di tengah meningkatnya ketegangan konflik Iran. Lonjakan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa blokade terhadap Iran dapat berlangsung selama berbulan-bulan.

Mengutip dari The Guardian, Kamis, 30 April 2026, kondisi ini mendorong harga minyak Brent menembus 126 dolar AS (Rp2,1 juta) per barel. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak 2022 dengan kenaikan lebih dari 13 persen dalam 24 jam.

Lonjakan harga terjadi sejak perang dimulai pada 28 Februari dan semakin memperlihatkan guncangan di pasar energi global. Kebijakan Amerika Serikat yang mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran menjadi salah satu faktor utama.

Sementara itu, Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Penutupan tersebut membuat arus kapal tanker minyak hampir terhenti, sehingga mengurangi pasokan global hingga 20 juta barel per hari.

Upaya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang direncanakan berlangsung di Islamabad, Pakistan, gagal terlaksana. Akibatnya, kebuntuan konflik terus berlanjut.

Trump menegaskan bahwa blokade akan tetap dilanjutkan jika diperlukan dan menilai langkah tersebut lebih efektif dibandingkan pengeboman. Pemerintah AS berharap tekanan ini dapat memaksa Iran membatasi produksi minyaknya, terutama jika fasilitas penyimpanan energi mereka mulai penuh.

Meski demikian, para analis belum dapat memastikan kapan dampak maksimal dari kebijakan tersebut akan terjadi. Di sisi lain, lembaga riset Oxford Economics memperingatkan potensi lonjakan harga minyak.

Harga minyak bisa mencapai 190 dolar AS (Rp3,2 juta) per barel jika krisis di Selat Hormuz berlangsung selama enam bulan. Lonjakan harga minyak ini juga memicu kekhawatiran akan terjadinya stagflasi global.

Imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara, termasuk Jepang dan Eropa, mengalami kenaikan signifikan seiring meningkatnya tekanan inflasi. Ekonom Paul Krugman memperingatkan bahwa krisis berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memicu resesi global dalam beberapa bulan ke depan.

Dampak kenaikan harga energi juga mulai terasa di berbagai negara. Di Amerika Serikat, Kongres mulai menyoroti meningkatnya biaya perang, sementara Iran terus berupaya memperkuat dukungan internasional melalui jalur diplomasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....