Uni Eropa Peringatkan Dampak Global Blokade Selat Hormuz dalam Pertemuan EU-ASEAN
- 28 Apr 2026 15:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Selat Hormuz masih terblokade akibat perang Iran yang berlangsung dua bulan, mengganggu perdagangan energi dunia.
- Pejabat Uni Eropa Kaja Kallas memperingatkan “preseden berbahaya” dan menekankan pentingnya kebebasan navigasi serta kerja sama internasional.
- Konflik yang dimulai 28 Februari setelah serangan AS-Israel memicu eskalasi, menutup Selat Hormuz, serta menyebabkan gangguan energi global, meski gencatan senjata sempat terjadi lewat mediasi Pakistan.
RRI.CO.ID, Bandar Seri Begawan — Selat Hormuz masih berada dalam kondisi blokade di tengah perang Iran yang telah berlangsung selama dua bulan. Situasi ini memicu kekhawatiran global, terutama terkait dampaknya terhadap perdagangan energi dunia.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas memperingatkan adanya “preseden berbahaya” akibat konflik yang berkepanjangan tersebut. Ia menyampaikan pernyataan itu di Brunei saat menghadiri pertemuan EU–ASEAN, dilansir dari Anadolu, Selasa, 28 April 2026.
Kallas menekankan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di jalur laut internasional. “Kebebasan navigasi harus tetap bebas atau ini akan menciptakan preseden berbahaya di tempat lain di dunia,” katanya.
Menurut Kallas, jika kebebasan pelayaran tidak dijaga, maka hal itu dapat menciptakan dampak berbahaya di berbagai wilayah dunia. Ia juga menyoroti bahwa upaya diplomatik sejauh ini belum menghasilkan terobosan berarti.
Sementara itu, harga energi terus meningkat dan berdampak pada kawasan Eropa maupun Asia. Ia menegaskan bahwa dalam situasi global saat ini, tidak ada negara yang dapat berdiri sendiri.
Kondisi di Timur Tengah, menurutnya, semakin memperjelas pentingnya kerja sama internasional. Perang sendiri dimulai pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Serangan tersebut kemudian memicu serangan balasan dan eskalasi konflik di kawasan. Akibatnya, Selat Hormuz ditutup, mengganggu jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia.
Penutupan jalur strategis tersebut menyebabkan gangguan besar pada pasokan energi global. Konflik ini juga berdampak luas terhadap negara-negara sekutu di kawasan Teluk.
Gencatan senjata sempat tercapai pada 8 April setelah Pakistan berperan sebagai mediator antara pihak yang bertikai. Namun, upaya diplomasi untuk mencapai perdamaian permanen masih terus berlangsung hingga kini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....