Rusia: Keluarnya UEA dari OPEC Berpotensi Menekan Harga Minyak Global
- 30 Apr 2026 16:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Rusia memperingatkan keluarnya UEA dari OPEC dapat menekan harga minyak global, terutama setelah konflik Timur Tengah mereda.
- UEA berpotensi meningkatkan produksi secara signifikan, yang bisa memicu kelebihan pasokan dan perang harga di pasar minyak.
- Keluarnya UEA dinilai melemahkan kemampuan OPEC+ dalam mengendalikan harga, di tengah menurunnya kepatuhan dan dinamika geopolitik antaranggota.
RRI.CO.ID, Moskow - Rusia memperingatkan, keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari OPEC berpotensi menekan harga minyak global di masa depan. Penurunan tersebut diperkirakan terjadi setelah konflik di Timur Tengah berakhir, dilansir dari Financial Times, Kamis, 30 April 2026.
Meski demikian, Moskow menegaskan tetap berkomitmen berada dalam aliansi OPEC+ bersama negara produsen lainnya. Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov, mengatakan tanpa pembatasan dari OPEC, UEA berpotensi memproduksi minyak tanpa kendali, dikutip dari TASS.
Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan pasokan secara signifikan dan mendorong penurunan harga minyak dunia. Saat ini, pasar masih dipengaruhi oleh situasi di Selat Hormuz yang membatasi distribusi energi global.
Hal tersebut menyebabkan dampak keluarnya UEA belum sepenuhnya terasa. Namun, jika jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali normal, produksi minyak diperkirakan akan meningkat tajam.
Para analis memperingatkan potensi terjadinya perang harga, terutama ketika negara-negara Teluk berupaya merebut kembali pangsa pasar. Analis dari HSBC memperkirakan produksi UEA dapat mencapai lebih dari 4,5 juta barel per hari.
Angka tersebut naik dari kuota sebelumnya sebesar 3,4 juta barel per hari. Keluarnya UEA juga dinilai dapat melemahkan kemampuan OPEC+ dalam mengatur pasokan minyak global.
Selain itu, langkah tersebut berpotensi memberi tekanan pada strategi pengendalian harga oleh Arab Saudi. Langkah tersebut juga memicu penurunan kepatuhan di antara anggota lainnya.
Di sisi lain, harga minyak masih mengalami kenaikan sejak pengumuman keluarnya UEA. Kenaikan tersebut terjadi karena hambatan utama produksi tetap berasal dari situasi di Selat Hormuz.
Hanya sebagian kecil kapal yang dapat melintasi jalur tersebut, sehingga pasokan masih terbatas. Sementara itu, Rusia memperkirakan harga minyak akan cenderung turun setelah konflik mereda.
Kremlin memastikan Rusia akan tetap menjadi bagian dari OPEC+, dan berharap aliansi tersebut tidak akan runtuh akibat keluarnya UEA. Jumlah anggota OPEC kini berkurang menjadi 11 negara, sementara OPEC+ masih mencakup sekitar 36 persen produksi minyak global.
UEA menyatakan keputusan tersebut sebagai langkah kedaulatan nasional yang didasarkan pada strategi jangka panjang. Langkah ini diambil di tengah hubungan dengan Arab Saudi yang dilaporkan semakin memburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....