UEA Keluar dari OPEC, Tekan Kekuatan Kartel Minyak Global

  • 29 Apr 2026 13:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Uni Emirat Arab akan keluar dari OPEC mulai 1 Mei 2026, langkah yang diperkirakan melemahkan kekuatan kartel minyak global.
  • Keputusan ini dipicu keinginan UEA meningkatkan produksi minyak setelah menolak kuota OPEC, serta dipengaruhi faktor geopolitik termasuk persaingan dengan Arab Saudi dan dinamika konflik dengan Iran.
  • Meski dampak pasar belum langsung terasa karena gangguan pasokan di Selat Hormuz, keluarnya UEA dinilai akan mengurangi kapasitas cadangan OPEC dan menyulitkan stabilisasi harga minyak global.

RRI.CO.ID, Abu Dhabi — Uni Emirat Arab mengumumkan akan keluar dari OPEC mulai Jumat, 1 Mei 2026. Langkah tersebut dinilai akan mengurangi kekuatan kartel minyak global, dilansir dari AP News.

Sebagai produsen terbesar ketiga di dalam organisasi tersebut, keputusan ini telah lama diperkirakan. UEA sebelumnya menolak kuota produksi yang dianggap terlalu rendah dan membatasi ekspansi produksinya.

Menurut analisis Capital Economics, UEA berupaya meningkatkan produksi minyak setelah melakukan investasi besar dalam kapasitas energi. Di sisi lain, keluarnya Qatar dari OPEC pada 2019 turut mencerminkan melemahnya ikatan antaranggota kartel tersebut.

Faktor politik kawasan juga turut memengaruhi keputusan ini. Hubungan UEA dengan Arab Saudi semakin kompetitif dalam isu ekonomi dan politik.

Sementara itu, dinamika konflik yang melibatkan Iran menambah kompleksitas situasi di kawasan. Meski demikian, penarikan diri UEA belum tentu berdampak langsung pada pasar minyak global.

Hal ini disebabkan oleh terganggunya pasokan energi akibat konflik yang berlangsung. Konflik tersebut juga memengaruhi jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz, yang menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Saat ini, OPEC menyumbang sekitar 40 persen produksi minyak dunia, namun pengaruhnya terus menurun seiring peningkatan produksi oleh Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump juga dikenal sebagai salah satu pengkritik utama OPEC selama masa jabatannya.

Sebelum konflik terbaru, UEA memproduksi sekitar 3,4 juta barel minyak per hari dengan kapasitas mencapai 5 juta barel per hari. Selain keluar dari OPEC, negara tersebut juga memutuskan meninggalkan OPEC+ sebagai bagian dari penyesuaian strategi energinya.

Perusahaan riset Rystad Energy menilai langkah ini sebagai perubahan signifikan yang akan mengurangi kapasitas cadangan dalam OPEC. Kondisi tersebut berpotensi menyulitkan organisasi dalam menjaga stabilitas harga serta menyeimbangkan pasar minyak global.

Meski keluar dari kartel, UEA tetap berencana meningkatkan produksi minyak dalam beberapa tahun ke depan. Di sisi lain, negara tersebut juga terus mengembangkan energi bersih sebagai bagian dari strategi jangka panjangnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....