Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC mulai 1 Mei 2026
- 29 Apr 2026 11:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Uni Emirat Arab (UAE) mengumumkan akan keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mulai 1 Mei 2026
- UAE menyatakan akan lebih fokus pada 'kepentingan nasional'nya dan merupakan strategi jangka panjang bagi masa depan perekonomiannya
- Keputusan UAE tidak lepas dari kesulitan negara itu melakukan ekspor minyaknya akibat blokade di Selat Hormuz
RRI.CO.ID, Jakarta - Uni Emirat Arab (UAE) mengumumkan akan keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mulai 1 Mei 2026. UAE menyatakan akan lebih fokus pada 'kepentingan nasional'nya dan merupakan strategi jangka panjang bagi masa depan perekonomiannya.
"Keputusan ini mencerminkan strategi jangka panjang dan visi ekonomi, serta profil energi yang terus berkembang," demikian pernyataan yang dirilis media pemerintah UAE, Selasa, 28 April 2026 seperti dikutip dari Al-Jazeera. Keputusan UAE menjadi pukulan bagi OPEC di tengah krisis harga energi yang mengguncang perekonomian global.
Keputusan UAE tidak lepas dari kesulitan negara itu melakukan ekspor minyaknya akibat blokade di Selat Hormuz. "Selama keberadaan kami di OPEC, kami telah memberikan kontribusi yang signifikan bahkan pengorbanan yang besar demi keuntungan organisasi," kata UAE.
"Tapi, sekarang saatnya kami fokus pada upaya untuk mengedepankan kepentingan nasional kami," ujarnya. Menteri Urusan Energi UAE Suhail Mohamed al-Mazrouei mengatakan, keputusan keluar dari OPEC sudah melalui pertimbangan yang matang.
Suhail juga menegaskan, keputusan tersebut merupakan keputusan UAE sendiri. UAE bahkan tidak membicarakan terlebih dulu keputusannya dengan Arab Saudi, anggota utama OPEC.
UAE menjadi anggota OPEC sejak 1967 sejak masih menjadi Emirat Abu Dhabi. Sampai akhirnya seluruh emirat bergabung menjadi Uni Emirat Arab pada tahun 1971.
Saat ini OPEC beranggotakan 12 negara, dan pada 2016 memperluas keanggotaannya menjadi OPEC+. Tambahannya 10 negara diantaranya Rusia, Brunei, Oman, Malaysia dan Bahrain.
OPEC menguasai 40 persen produksi minyak global dan 80 persen cadangan minyak dunia. Meski dari luar terlihat solid, antara anggota OPEC sendiri sering terjadi pertentangan terkait kuota produksi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....