Keluarnya UEA Ancam Pengaruh OPEC di Pasar Minyak

  • 30 Apr 2026 14:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rencana keluarnya UEA dari OPEC dinilai sebagai pukulan besar yang dapat melemahkan pengaruh organisasi dalam mengendalikan harga minyak global.
  • Keputusan ini terjadi di tengah krisis pasokan energi akibat konflik geopolitik, yang memperparah volatilitas pasar minyak dunia.
  • Pengaruh OPEC terus menurun seiring dominasi negara non-OPEC seperti Amerika Serikat, sehingga kemampuannya mengatur harga minyak diperkirakan semakin terbatas.

RRI.CO.ID, Abu Dhabi = Rencana keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dinilai sebagai pukulan besar bagi organisasi tersebut. Bahkan, langkah ini disebut sebagai awal dari akhir pengaruh OPEC, dilansir dari BBC News, Kamis, 30 April 2026.

Keputusan ini muncul di tengah volatilitas tinggi pasar minyak global. Kondisi tersebut dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mengganggu pasokan energi dunia.

Bank Dunia menyebut situasi ini sebagai salah satu kehilangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. OPEC sendiri didirikan pada 1960 oleh lima negara penghasil minyak utama dengan tujuan melindungi kepentingan eksportir melalui pengaturan produksi.

Seiring waktu, keanggotaannya bertambah dan pada 2016 organisasi ini membentuk aliansi OPEC+ bersama negara lain termasuk Rusia. Selama ini, OPEC berupaya memengaruhi harga minyak global dengan mengatur jumlah produksi.

Produksi ditingkatkan untuk menurunkan harga dan dikurangi untuk menjaga harga tetap tinggi. Kebijakan OPEC pernah berdampak besar, seperti embargo minyak tahun 1973 yang menyebabkan lonjakan harga drastis dan krisis energi global.

Dalam periode modern, OPEC+ juga memangkas produksi saat pandemi COVID-19 guna menstabilkan harga. Namun, respons terhadap krisis lain, seperti perang di Ukraina, dinilai lebih terbatas.

UEA sendiri merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia, dengan produksi sekitar 3,1 juta barel per hari pada 2025. Meski demikian, penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi global membuat dampak keluarnya UEA belum terasa dalam jangka pendek.

Para analis memperkirakan, setelah keluar dari OPEC, UEA berpotensi meningkatkan produksinya secara signifikan. Di tengah perkembangan ini, pengaruh OPEC terhadap pasar minyak global juga terus menurun.

Pangsa produksi OPEC kini lebih kecil dibandingkan dekade sebelumnya. Sementara itu, negara non-OPEC seperti Amerika Serikat semakin mendominasi produksi global.

Kondisi ini menandai pergeseran kekuatan dalam penentuan harga minyak dunia. Meski OPEC diperkirakan tetap bertahan, kemampuannya untuk mengendalikan harga minyak dinilai tidak akan sekuat sebelumnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....