Thailand Dorong Proyek Jalur Alternatif ‘Land Bridge’ imbas Krisis Hormuz

  • 28 Apr 2026 15:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penutupan Selat Hormuz mendorong Thailand mempercepat proyek “Land Bridge” senilai sekitar 31 miliar dolar AS sebagai jalur logistik alternatif yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik.
  • Proyek ini mencakup dua pelabuhan laut dalam di Ranong dan Chumphon yang dihubungkan jalur darat 90 km.
  • Land Bridge dirancang sebagai alternatif Selat Malaka untuk mengurangi ketergantungan jalur perdagangan utama dunia, dan dinilai lebih realistis dibanding proyek Kanal Kra.

RRI.CO.ID, Bangkok — Penutupan Selat Hormuz mendorong Thailand mempercepat rencana pembangunan proyek “Land Bridge”. Proyek ini dirancang sebagai jalur logistik alternatif yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, dilansir dari Reuters, Selasa, 28 April 2026.

Pemerintah Thailand menyatakan proyek ini kembali dihidupkan setelah sebelumnya sempat tertunda. Penundaan terjadi akibat ketidakstabilan politik, belum selesainya studi lingkungan, serta penolakan dari sebagian masyarakat.

Proyek ini bernilai sekitar 31 miliar dolar AS atau setara 1 triliun baht (Rp530,6 triliun). Rencananya, proyek tersebut akan diajukan ke kabinet pada Juni atau Juli, dengan kemungkinan pembangunan dimulai pada kuartal ketiga.

Rencana tersebut juga membuka peluang besar bagi investor asing. Singapura menjadi salah satu pihak yang didekati untuk berpartisipasi dalam pendanaan.

Land Bridge mencakup pembangunan dua pelabuhan laut dalam di Ranong dan Chumphon. Kedua pelabuhan akan dihubungkan jalur darat sepanjang 90 kilometer, termasuk jalan, rel kereta api, serta infrastruktur energi seperti pipa.

Proyek ini dirancang sebagai alternatif dari Selat Malaka yang selama ini menjadi salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia. Selat Malaka diketahui dilalui lebih dari 100.000 kapal setiap tahun.

Selat tersebut menjadi rute penting yang menghubungkan Asia Timur dengan Timur Tengah dan Eropa. Dengan adanya Land Bridge, Thailand berharap dapat mengurangi ketergantungan pada jalur tersebut sekaligus memperkuat posisinya dalam rantai logistik global.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mempromosikan proyek ini dalam pertemuan dengan pejabat Singapura, yang menyatakan ketertarikan awal terhadap rencana tersebut. Meski demikian, proyek ini masih harus melalui berbagai kajian dan persetujuan sebelum dapat direalisasikan.

Dibandingkan gagasan lama Kanal Kra, Land Bridge dinilai lebih realistis untuk dikembangkan sebagai jalur perdagangan alternatif di Asia Tenggara. Kanal Kra sendiri telah lama ditolak karena masalah lingkungan, biaya, dan keamanan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....