Pejabat Timteng-Eropa Perkirakan Negosiasi AS-Iran Makan Waktu Enam Bulan

  • 17 Apr 2026 19:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pembicaraan damai AS–Iran diperkirakan memakan waktu hingga enam bulan, sehingga gencatan senjata disarankan untuk diperpanjang guna memberi ruang diplomasi.
  • Fokus utama negosiasi mencakup pembukaan Selat Hormuz yang penting bagi jalur energi global serta pencegahan krisis pangan.
  • AS dan Iran menurunkan ambisi dari perjanjian damai penuh menjadi nota kesepahaman sementara, dengan beberapa kemajuan dalam pembahasan isu utama.

RRI.CO.ID, Teheran - Pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan akan memakan waktu hingga enam bulan untuk mencapai kesepakatan. Hal ini disampaikan oleh sejumlah pejabat dari kawasan Timur Tengah dan Eropa kepada Bloomberg.

Melansir dari Bloomberg dan The Jerusalem Post, Jumat, 17 April 2026 menilai proses negosiasi masih memerlukan waktu lebih panjang. Oleh karena itu, mereka merekomendasikan agar gencatan senjata yang saat ini berlaku dapat diperpanjang.

Perpanjangan tersebut diusulkan dengan tujuan memberi ruang bagi diplomasi berjalan lebih optimal. Para pejabat menilai bahwa kesepakatan damai secara komprehensif sulit dicapai dalam waktu singkat.

Sebagai alternatif, kedua pihak kini mempertimbangkan langkah sementara guna menjaga stabilitas. Salah satu isu utama dalam pembicaraan adalah pembukaan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi kunci perdagangan energi global.

Negara-negara Teluk Arab dan Eropa mendesak agar selat tersebut segera dibuka kembali untuk memulihkan aliran energi dunia. Selain itu, pembukaan kembali jalur tersebut penting untuk mencegah potensi krisis pangan global.

Sementara itu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah menurunkan ambisi mereka dalam perundingan. Alih-alih mengejar perjanjian damai menyeluruh, kedua pihak kini fokus pada penyusunan nota kesepahaman sementara yang bertujuan mencegah kembalinya konflik.

Laporan Reuters menyebutkan bahwa negosiasi menunjukkan perkembangan. Kedua pihak mulai mempersempit sejumlah perbedaan, termasuk terkait pengelolaan Selat Hormuz.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....