Iran: Blokade AS di Selat Hormuz Bisa Rusak Gencatan Senjata

  • 17 Apr 2026 00:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rencana blokade maritim oleh Amerika Serikat di Selat Hormuz berpotensi merusak kesepakatan gencatan senjata.
  • Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut langkah tersebut sebagai tindakan provokatif.

RRI.CO.ID, Teheran - Blokade Amerika Serikat atas Selat Hormuz berpotensi merusak kesepakatan gencatan senjata. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut langkah tersebut sebagai tindakan provokatif.

Kepada media Rusia "RIA Novosti", Kamis 16 April 2026, Esmail mengatakan tentara Iran siap bertindak jika situasi memburuk. Saat ini gencatan senjata masih berlangsung antara AS dan Iran, walau perundingan di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.

Presidan Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz jika Iran tidak segera membukanya untuk jalur internasional. Iran telah membuka Selat Hormuz secara selektif kepada kapal-kapal dari negara yang tidak memusuhi Iran.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, turut menyoroti isu tersebut. Melalui media sosial, ia menegaskan bahwa Lebanon harus dilibatkan dalam setiap kesepakatan gencatan senjata.

Qalibaf juga memuji perlawanan Hizbullah dan menyerukan agar Washington menghormati kesepakatan yang ada. Penasihat militer senior pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan negaranya siap menghadapi perang berkepanjangan walau ada blokade AS.

Rezaei menegaskan Iran tidak akan berkompromi terkait syarat-syarat dalam negosiasi. Ia juga mengkritik upaya AS yang dianggap ingin bertindak sebagai “polisi” di Selat Hormuz.

Menurutnya, Iran tidak akan pernah melepaskan haknya atas jalur perairan vital tersebut. Dalam perundingan di Paksitan, delegasi Iran menuntut pengakuan ini, namun Amerika Serikat menolak.

Presiden Amerika Serikat mengatakan bahwa pihaknya telah menginstruksikan Angkatan Laut AS mengawasi Selat Hormuz. Kapal-kapal perang AS akan mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar kepada Iran.

"Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan memiliki jalur aman di laut lepas," kata Trump. Iran dikabarkan memungut biaya kepada kapal yang telah diizinkan melintas di Selat Hormuz.

Dikabarkan, dua kapal perusak AS yaitu USS Michael Murphy dan USS Frank E Peterson meninggalkan kawasan sekitar Selat Hormuz. Langkah balik arah untuk mundur itu dilakukan dua kapal AS karena mendapat ancaman rudal Iran.

Patroli angkatan laut Iran menemukan dua kapal tersebut mendekati Selat Hormuz. Pasukan Iran kemudian mengirim sejumlah drone ke lokasi dan memaksa dua kapal perusak dan 16 kapal lainya balik arah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....