IMF: 12 Negara Diperkirakan Akan Ajukan Pinjaman Hadapi Krisis Energi Global
- 16 Apr 2026 16:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IMF memperkirakan sedikitnya 12 negara akan mengajukan pinjaman baru untuk menghadapi dampak perang di Timur Tengah, dengan kebutuhan bantuan global mencapai 20–50 miliar dolar AS.
- Penutupan Selat Hormuz dinilai akan memperburuk krisis pasokan global dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia, bahkan dalam skenario terburuk bisa turun hingga 2 persen.
- IMF menyarankan penghematan energi dan menolak subsidi BBM luas, serta memperingatkan risiko inflasi dan krisis pangan yang dapat berdampak besar pada negara berkembang.
RRI.CO.ID, Washington — Dana Moneter Indonesia (IMF) memperkirakan sedikitnya 12 negara akan mengajukan pinjaman baru untuk menghadapi dampak perang di Timur Tengah. Pinjaman tersebut dibutuhkan untuk mengatasi lonjakan harga energi global serta gangguan rantai pasok yang semakin meluas.
Melansir dari Reuters, Kamis, 16 April 2026, kondisi ini termasuk dampak yang dirasakan di sejumlah negara Afrika Sub-Sahara. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyampaikan bahwa penutupan Selat Hormuz akan memperburuk krisis pasokan global.
Hal tersebut diperkirakan terjadi bahkan jika konflik berakhir dalam waktu dekat. Ia menegaskan bahwa dampak gangguan pengiriman kapal tanker tetap akan terasa karena proses distribusi membutuhkan waktu lama.
IMF memperkirakan kebutuhan bantuan global dapat mencapai 20 hingga 50 miliar dolar AS (Rp342,8 – Rp857,1 triliun). Bantuan tersebut dapat berupa pinjaman baru maupun penambahan program pembiayaan yang sudah ada.
Namun lembaga tersebut belum menyebut negara mana saja yang telah mengajukan permintaan, meskipun jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah. Georgieva juga menyoroti bahwa negara-negara Asia menjadi pihak yang paling terdampak.
Hal tersebut karena ketergantungan mereka pada pasokan energi dan bahan baku dari kawasan Teluk. IMF memperingatkan bahwa kondisi ini dapat terus menekan ekonomi global dalam beberapa waktu ke depan.
Dalam proyeksi terbarunya, IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen pada 2026. Dalam skenario yang lebih buruk, angka tersebut dapat turun lebih lanjut menjadi 2,5 persen.
Bahkan dalam kondisi terparah, pertumbuhan global bisa turun hingga 2 persen dan mendekati resesi dunia. Di tengah kondisi tersebut, IMF menyarankan negara-negara untuk melakukan penghematan energi.
IMF juga menyarankan negara-negara untuk menghindari subsidi BBM luas karena dinilai dapat memperburuk inflasi. Bank sentral juga diminta tetap waspada terhadap risiko inflasi meski tidak perlu terburu-buru memperketat kebijakan moneter.
Selain itu, IMF memperingatkan bahwa gangguan pasokan pupuk dapat memperburuk krisis pangan global. Negara berpendapatan rendah disebut menjadi kelompok yang paling rentan karena sebagian besar pengeluaran mereka dialokasikan untuk kebutuhan pangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....