IMF: Perang Iran Tinggalkan Dampak Permanen Ekonomi Global

  • 10 Apr 2026 14:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IMF memperingatkan perang Iran akan meninggalkan dampak permanen pada ekonomi global, bahkan jika perdamaian tercapai, dengan pertumbuhan dunia diperkirakan melambat dan standar hidup menurun.
  • Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyebut kerusakan infrastruktur, gangguan rantai pasokan, dan ketidakpastian energi, terutama terkait Selat Hormuz, akan menekan ekonomi global dalam jangka panjang.
  • Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, menegaskan konflik Timur Tengah memicu guncangan besar dan volatilitas pasar, dengan negara pengimpor minyak dan negara miskin paling terdampak.

RRI.CO.ID, Washington — Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang Iran akan meninggalkan dampak permanen pada ekonomi global. Ia menegaskan kondisi ini tetap terjadi meskipun kesepakatan damai berhasil dicapai, dilansir dari The Guardian, Jumat, 10 April 2026.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyatakan pertumbuhan global diperkirakan melambat akibat efek “luka” ekonomi yang terjadi sejak konflik dimulai. Ia menjelaskan bahwa IMF sebelumnya berencana menaikkan proyeksi pertumbuhan global 2026.

Namun pecahnya konflik mengubah prospek tersebut, sehingga bahkan skenario paling optimistis tetap menunjukkan penurunan pertumbuhan. Georgieva menegaskan tidak akan ada kembali secara cepat ke kondisi ekonomi sebelum perang.

Ketidakpastian juga meningkat karena gencatan senjata masih rapuh dan Washington serta Teheran memiliki perbedaan pandangan. Harga minyak global turut naik di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi, terutama melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi ekonomi dunia.

IMF menyebut semua skenario dalam proyeksi terbarunya menunjukkan penurunan standar hidup secara permanen. Menurut Georgieva, ekonomi dunia sebenarnya memasuki konflik dengan momentum kuat dari investasi teknologi dan kondisi pasar keuangan yang mendukung.

Namun kerusakan infrastruktur, gangguan rantai pasokan, serta menurunnya kepercayaan investor diperkirakan akan menekan pertumbuhan. Ia juga menyoroti ketidakpastian pemulihan produksi minyak dan gas serta gangguan pada jalur pelayaran dan transportasi udara regional.

IMF memperingatkan negara pengimpor minyak, negara miskin, dan negara kepulauan kecil akan paling terdampak. Pemerintah di seluruh dunia diminta menghindari kebijakan sepihak seperti pembatasan ekspor atau kontrol harga yang dapat memperburuk kondisi global.

Selain itu, dukungan fiskal disarankan difokuskan pada kelompok rentan, karena subsidi besar berisiko memicu inflasi. Komentar tersebut diperkuat oleh Gubernur Bank of England, Andrew Bailey.

Bailey menyebut ekonomi global menghadapi guncangan besar akibat konflik. Ia menilai volatilitas pasar meningkat dan risiko tetap tinggi selama situasi di Timur Tengah masih tidak stabil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....