Pakistan Siapkan Pembicaraan Baru AS-Iran di tengah Blokade

  • 15 Apr 2026 13:43 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pakistan mengupayakan pembicaraan baru antara Amerika Serikat dan Iran di tengah blokade dan meningkatnya ketegangan kawasan.
  • Putaran kedua negosiasi didorong setelah kegagalan sebelumnya terkait isu nuklir Iran, dengan dukungan Donald Trump dan Antonio Guterres.
  • Konflik berdampak luas, termasuk ketegangan di Selat Hormuz, gangguan pelayaran, serta lonjakan harga energi global.

RRI.CO.ID, Islamabad — Diplomat Pakistan tengah mengupayakan pembicaraan baru antara Amerika Serikat dan Iran melalui jalur belakang di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Upaya ini dilakukan setelah Washington memberlakukan blokade terhadap Iran, dilansir dari PBS News dan Euro News, Rabu, 15 April 2026.

Sementara itu, Teheran mengancam akan melakukan serangan balasan ke berbagai target di kawasan. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa putaran kedua pembicaraan berpotensi digelar dalam dua hari ke depan.

Pakistan menjadi salah satu lokasi yang dipertimbangkan untuk pelaksanaan pembicaraan antara kedua negara tersebut. Dukungan juga datang dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang menilai pembicaraan sangat mungkin dilanjutkan.

Putaran pertama sebelumnya gagal mencapai kesepakatan karena perbedaan terkait isu nuklir Iran. Ketegangan turut meningkat di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi global.

Meskipun gencatan senjata masih bertahan, risiko eskalasi konflik tetap tinggi. Perang yang telah memasuki minggu ketujuh juga berdampak pada stabilitas ekonomi dunia.

Pakistan mengusulkan diri sebagai tuan rumah pembicaraan, sementara opsi lain seperti Geneva juga tengah dipertimbangkan. Di sisi lain, konflik yang berlangsung telah mengganggu jalur pelayaran internasional dan menyebabkan lonjakan harga energi global.

Militer AS telah mulai menerapkan blokade, yang membuat sejumlah kapal tanker berbalik arah, meskipun beberapa kapal dilaporkan masih dapat melintas. Situasi ini turut memicu reaksi internasional, termasuk kritik dari Presiden Tiongkok Xi Jinping terkait kondisi global yang semakin tidak stabil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....