Dampak Konflik Iran-AS, WNI Terancam dan Ekonomi RI Berisiko Terganggu
- 14 Apr 2026 17:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pengamat menyoroti nasib memprihatinkan tenaga kerja Indonesia di Lebanon dan negara teluk yang ditinggalkan majikan tanpa upah di tengah situasi konflik yang tidak menentu.
- Gangguan pasokan produk petrokimia (seperti asam sulfat) dari Timur Tengah berisiko menghentikan pengolahan mineral (nikel, tembaga, aluminium), yang dapat memicu defisit ekspor dan penurunan pertumbuhan ekonomi nasional.
- Pemerintah Indonesia didesak untuk menjaga sikap netral dan tidak memberikan sinyal keberpihakan, guna menghindari risiko diplomatik dan dampak ekonomi yang lebih luas.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pengamat hubungan internasional sekaligus pendiri Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja mengingatkan dampak konflik Amerika Serikat dan Iran tidak hanya soal geopolitik. Indonesia juga menghadapi ancaman serius dari sisi ekonomi dan kemanusiaan.
Ia mengungkapkan, situasi di kawasan sudah berdampak pada keselamatan warga negara Indonesia. Sejumlah pekerja migran di Timur Tengah disebut menghadapi kondisi sulit.
“Tenaga kerja Indonesia yang ada di Lebanon dan sejumlah negara teluk, itu ditinggal aja sama majikannya, nggak dibayar, nggak dikaji, pokoknya jadi jaga rumah. Bisa dibayangkan risiko kemanusiaannya sangat-sangat serius,” ujar Dinna dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Selasa 14 April 2026.
Selain itu, risiko ekonomi dinilai jauh lebih luas. Indonesia berpotensi terganggu pasokan bahan penting seperti produk petrokimia.
“Jadi sebenarnya masalah yang lain dan juga mengintai itu adalah produk petrokimia yang sangat-sangat dibutuhkan untuk mengolah hasil tambang di Indonesia. Kita tahu ekspor kita itu sangat bergantung pada sektor tambang,” katanya.
Ia menyoroti ketergantungan industri tambang pada bahan seperti asam sulfat. Jika pasokan terganggu, proses pengolahan mineral bisa terhenti.
“Jadi yang terkena itu mulai dari nikel sampai tembaga, hampir segala aluminium. Produk-produk tambang Indonesia, itu terkena dampak, artinya nanti dampak kita nggak mampu menerima bahan baku,” ucapnya.
“Tambang kita akan berujung pada bahan baku di industri itu terhenti, ekspor kita juga nilainya defisit. Terburuknya tentu pertumbuhan ekonomi akan rendah dan nilai tukar mata uang kita juga terganggu, karena kita nggak punya cadangan devisa yang cukup,” kata Dinna menambahkan.
Ia menegaskan, Indonesia harus berhati-hati dalam menentukan sikap politik. Pemerintah diminta tidak memberi sinyal keberpihakan kepada salah satu pihak.
“Jangan sampai terseret konflik, jangan sampai mengirimkan sinyal yang keliru, bahwa Indonesia itu berpihak pada satu sisi. Ini sensitif banget, sangat disayangkan (jika memihak satu pihak),” katanya.
Menurutnya, langkah seperti membuka akses wilayah udara untuk kepentingan militer asing bisa menjadi sinyal yang keliru. Hal ini berpotensi memengaruhi posisi Indonesia di mata internasional.
Dinna menekankan, Indonesia perlu menjaga netralitas dan bersikap hati-hati di tengah konflik yang sedang terjadi. “Semoga konflik ini juga semakin bisa direda dan tidak terlalu berdampak serius terhadap Indonesia juga,” ujarnya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....