Prancis Siapkan Pengawalan Kapal Selat Hormuz Bersama Sekutu

  • 11 Apr 2026 14:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Catherine Vautrin menyatakan Prancis memimpin perencanaan pengawalan kapal di Selat Hormuz bersama sekitar 20 negara untuk menjamin keamanan pelayaran.
  • Pengawalan dipertimbangkan guna menjaga kebebasan navigasi di jalur strategis yang menangani sekitar 20 persen perdagangan dunia.
  • Ketegangan meningkat setelah serangan AS–Israel terhadap Iran, sementara Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu dan negosiasi diharapkan menghasilkan kesepakatan jangka panjang.

RRI.CO.ID, Paris — Menteri Pertahanan Prancis Catherine Vautrin mengatakan bahwa proses perencanaan pengawalan kapal di Selat Hormuz sedang berlangsung di bawah inisiatif Prancis. Ia menyebut sekitar 20 negara terlibat dalam perencanaan untuk memastikan kapal dapat melintasi jalur tersebut dengan pengawalan jika diperlukan.

“Sedang berlangsung proses perencanaan yang diprakarsai oleh Prancis, melibatkan sekitar 20 negara, untuk menilai bagaimana kapal dapat melintasi selat tersebut dengan pengawalan jika diperlukan,” kata Vautrin kepada penyiar La Chaine Info (LCI), dikutip dari Anadolu, 11 April 2026.

Vautrin menjelaskan bahwa prioritas utama tetap memastikan kebebasan navigasi melalui koordinasi diplomatik dengan berbagai pemangku kepentingan. Koordinasi tersebut melibatkan negara mitra, perusahaan pelayaran, serta perusahaan asuransi sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan jalur maritim.

Ia menambahkan bahwa Selat Hormuz merupakan titik sempit strategis global yang menyumbang sekitar 20 persen arus perdagangan dunia. Oleh karena itu, pengamanan pelayaran di kawasan tersebut dinilai penting bagi stabilitas ekonomi internasional.

Vautrin juga menyoroti ketegangan regional yang masih berlangsung. Ia menggambarkan gencatan senjata saat ini sebagai sangat rapuh dan menilai langkah penguatan diperlukan untuk mencapai perdamaian jangka panjang.

Ketegangan kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal serta membatasi pergerakan kapal di Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Negosiasi diharapkan menentukan kemungkinan tercapainya kesepakatan jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....