Pemimpin Iran Janjikan Pengelolaan Fase Baru Selat Hormuz
- 11 Apr 2026 13:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei menyatakan pengelolaan Selat Hormuz akan memasuki fase baru dan Iran akan menuntut kompensasi atas kerusakan perang.
- Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan bernegosiasi di Pakistan selama hingga dua minggu, namun Teheran menegaskan konflik belum berakhir.
- Ketegangan meningkat sejak ofensif terhadap Iran pada 28 Februari, sementara Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu sambil menunggu hasil perundingan.
RRI.CO.ID, Teheran — Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei menyatakan bahwa pengelolaan Selat Hormuz akan memasuki fase baru. Ia juga menegaskan bahwa Teheran akan menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang, dilansir dari Anadolu, Sabtu, 11 April 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pesan resmi yang dirilis pada Kamis, 9 April 2026. Dalam pesannya, Khamenei mengatakan Iran akan memasuki fase strategis baru terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Meski demikian, ia tidak merinci langkah konkret yang akan diambil. Ia juga menekankan bahwa Iran akan mengejar pertanggungjawaban hukum dan material atas kerusakan yang terjadi.
Menurutnya, agresor tidak akan dibiarkan tanpa hukuman dan Iran akan menuntut kompensasi atas kerusakan, korban jiwa, serta mereka yang terluka. Pernyataan tersebut muncul di tengah rencana negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Negosiasi tersebut dijadwalkan berlangsung di Pakistan dengan mediasi pemerintah setempat. Pembicaraan diperkirakan dimulai pada Sabtu, 11 April 2026 dan dapat berlangsung hingga dua minggu.
Iran menegaskan bahwa negosiasi tersebut tidak menandakan berakhirnya konflik. Sementara itu, Khamenei memperingatkan bahwa negaranya tetap siap merespons setiap agresi baru.
Ketegangan kawasan meningkat sejak ofensif terhadap Iran pada 28 Februari yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat. Konflik tersebut juga berdampak pada kerusakan infrastruktur serta gangguan terhadap pasar global dan penerbangan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Negosiasi diharapkan menentukan kemungkinan tercapainya kesepakatan jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....