Konflik Timteng, Arab Saudi Alihkan Ekspor Minyak

  • 28 Mar 2026 15:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Arab Saudi berupaya menyalurkan minyak melalui Pelabuhan Yanbu, yang terhubung ke ladang minyak di timur negara itu melalui East-West pipeline sepanjang 1.200 kilometer.
  • Sebelum 28 Februari, ekspor dari pelabuhan rata-rata 0,8 juta barel per hari, namun pada 15–26 Maret melonjak menjadi 3,94 juta barel per hari.
  • Yanbu menjadi jalur penting untuk menjaga distribusi energi regional dan global.

RRI.CO.ID, Riyadh — Arab Saudi berupaya mencari rute ekspor minyak alternatif melalui Pelabuhan Yanbu di tengah gangguan ekspor akibat konflik di Timur Tengah. Pelabuhan yang terletak di pesisir Laut Merah tersebut kini menjadi bagian penting dari strategi kerajaan.

Melansir dari Anadolu, Sabtu, 28 Maret 2026, langkah itu dilakukan untuk menjaga pengiriman minyak mentah tetap berjalan tanpa hambatan. Menurut data Kpler, Yanbu terhubung dengan ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi melalui East-West pipeline sepanjang 1.200 kilometer.

Jalur ini memungkinkan minyak mentah dikirim tanpa harus melewati Selat Hormuz yang saat ini mengalami gangguan. Sebelum 28 Februari, ekspor dari pelabuhan tersebut rata-rata sekitar 0,8 juta barel per hari.

Namun, pada periode 15 hingga 26 Maret, angka tersebut melonjak menjadi sekitar 3,94 juta barel per hari. Kenaikan tersebut menandakan peningkatan signifikan dalam pemanfaatan jalur alternatif tersebut.

Perubahan ini terjadi ketika ekspor minyak keseluruhan Arab Saudi menunjukkan fluktuasi. Data menunjukkan ekspor harian turun dari sekitar 7,1 juta barel pada Februari menjadi 4,3 juta barel pada Maret.

Penurunan ini dipicu gangguan pada Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari. Gangguan tersebut meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong kenaikan harga minyak global.

Dalam situasi tersebut, Pelabuhan Yanbu menjadi salah satu jalur ekspor utama minyak mentah bagi negara-negara Teluk. Jalur ini penting untuk menjaga kelancaran distribusi energi global di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....