Sekitar 1.900 Kapal Terjebak di Selat Hormuz, Dorong Tarif Pengiriman Naik

  • 27 Mar 2026 16:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sekitar 1.900 kapal, termasuk tanker minyak, kapal kontainer, dan kapal kargo, terhenti di Teluk Persia akibat penutupan jalur perairan oleh Iran setelah konflik meningkat.
  • Terjebaknya lebih dari 200 juta barel minyak mentah dan produk petroleum memicu kenaikan tarif pengiriman global, terutama pada kapal tanker minyak, serta lonjakan indeks pengiriman kontainer dan kargo.
  • Penutupan Selat Hormuz mempersempit opsi rute alternatif karena sebagian besar ekspor minyak laut global melewati selat ini, dan sekitar 5,5 persen armada tanker dunia serta 1,5 persen armada kontainer/kargo curah terdampar di Teluk Persia.

RRI.CO.ID, Teheran — Ratusan hingga ribuan kapal komersial dilaporkan terjebak di Selat Hormuz sejak meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Sekitar 1.900 kapal berada terutama di Teluk Persia setelah perang Iran meletus, dilansir dari Anadolu, Jumat, 27 Maret 2026.

Teheran kemudian menutup jalur perairan vital tersebut bagi kapal-kapal yang terkait dengan negara penyerang. Hal tersebut menyebabkan lalu lintas maritim di selat itu hampir berhenti total.

Kapal-kapal yang berada di wilayah tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan dan sebagian besar menjatuhkan jangkar di perairan terbuka. Iran menyatakan kapal dari negara lain masih diperbolehkan melintas selama tidak mendukung agresi terhadap Iran serta mematuhi aturan keamanan.

Namun, otoritas Iran menegaskan bahwa aturan di selat tersebut telah diubah dan kondisi sebelum konflik tidak akan kembali dalam waktu dekat. Entitas yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel juga tidak diizinkan untuk melintas.

Data dari MarineTraffic pada 20–22 Maret mencatat sekitar 1.900 kapal tidak dapat bergerak di sekitar selat tersebut. Di antaranya terdapat ratusan kapal pengangkut curah, kapal produk minyak, dan kapal pengangkut petroleum.

Selain itu, lebih dari dua ratus tanker minyak mentah juga terjebak di wilayah tersebut. Perusahaan analitik energi Vortexa memperkirakan sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk petroleum berada di kapal-kapal yang terjebak.

Selain itu, kapal kontainer, kapal kargo umum, kapal LPG, dan berbagai jenis kapal lainnya juga terdampak. Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd melaporkan enam kapalnya tidak dapat beroperasi di Teluk Persia akibat ketegangan yang berlangsung.

Situasi tersebut turut memicu kenaikan tarif pengiriman global. Baltic and International Maritime Council (BIMCO) menyatakan bahwa penghentian lalu lintas maritim berdampak pada pasar dan tarif angkutan.

Dampak tersebut bergantung pada harga bahan bakar, durasi penutupan Selat Hormuz, serta jumlah kapal yang diizinkan melintas. Kenaikan tarif paling terlihat pada pasar kapal tanker minyak mentah dan produk petroleum.

Indeks pengiriman tanker dilaporkan meningkat signifikan sejak akhir Februari, sementara tarif pengiriman kontainer juga mengalami lonjakan. Dalam kondisi normal, sebagian besar ekspor minyak laut global melewati Selat Hormuz, sehingga penutupan jalur tersebut mempersempit opsi rute alternatif.

Para analis memperkirakan sekitar 5,5 persen armada tanker dunia berada di Teluk Persia saat ini. Selain itu, sekitar 1,5 persen armada kontainer dan kargo curah juga terdampar, memperbesar dampak gangguan terhadap perdagangan global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....